LAGU DAN MORALITAS

Kau hamil duluan padahal pacaran

Aku jadi sedih campur senang

Maaf kamu hamil duluan

Sudah masuk tiga bulan jalan

Kadang aku senang kadang aku bimbang

Aku gak nyangka aku sudah jadi ayah

 

Bait di atas adalah penggalan lagu yang berjudul Maaf Hamil Duluan, salah satu lagu yang dicekal oleh KPID Jawa Tengah. Selain lagu ini masih ada enam lagu lain yang dilarang untuk beredar di lembaga penyiaran seluruh Jateng yaitu lagu berjudul Hamil duluan, Pengen Dibolongi, Apa Aja Boleh, Njaluk Kelon, Kudu Misuh, dan Bombasu.

KPID Jawa Tengah juga membatasi 46 ludul lagu yang lain untuk diperdengarkan. Apa yang dilakukan oleh KPID Jawa Tengah ini menurut Tazkiyatul Muthmainah, Kabid Aduan dan Pengawasan Isi Siaran KPID Jateng karena lagu-lagu tersebut berisi konten cabul, seks, dan tidak mendidik.

Penggalan lagu Maaf Kamu Hamil Duluan yang dipenggal di atas juga secara gamblang melenceng dari Standar Program Siaran (SPS) Pasal 20 (1) Program siaran dilarang berisi lagu dan/atau video klip yang menampilkan judul/atau lirik bermuatan seks, cabul, dan/atau mengesankan aktivitas seks. Ditunjukkan di bait pertama lagu tersebut terdapat kalimat kau yang pegang-pegang malu-malu mau. Bait pertama ini menunjukkan permulaan terjadinya aktifitas seks yang berakibat terjadinya kehamilan perempuan yang masih berstatus pacar.

Di bait berikutnya menunjukkan respon sang laki-laki atas kejadian tersebut. Di situ dikatakan “Di situ aku senang, kadang aku bimbang”. Sikap demikian adalah sikap yang ambigu antara menyesal dan bangga. Apalagi lagu dibawakan dengan “gojekan” sehingga terkesan main-main atas peristiwa mencemaskan dan menghancurkan masa depan terutama bagi perempuan. Edukasi untuk mengatasi persoalan dengan menunjukkan sikap bertanggung jawab ditunjukkan melalui kalimat “Aku pasti datang tuk melamar, tak mungkin ku lari dari kenyataan.” Namun justru menjadi semacam ejekan bagi perempuan karena dilakukan dengan bergurau.

Lebih parah lagi dengan lagu berjudul “Ku Hamil Duluan”, deskripsi hubungan seksualitas dilakukan lebih jelas dan gamlang mulai dari ciuman, pelukan, hingga tidur berduaan sebelum terjadi kehamilan. Sebagaimana lagu dangdut pada masa kini yang disampaikan dengan candaan mengesankan kehamilan sebelum nikah adalah hal yang perlu dirayakan dengan goyangan dan tanpa ratapan. Tidak ada penyesalan yang ternyatakan dalam lagu tersebut memberi kesan bahwa perilaku hubungan seksualitas sebelum menikah adalah sebuah perayaan. Dua lagu di atas tidak mendedah resiko hubungan seks di luar nikah yang menjadi awal mula terjadinya tindak kekerasan kepada perempuan yang berlanjut sepanjang masa hidupnya.

Hubungan sebelum menikah merupakan kekerasan terhadap perempuan. perempuanlah yang memiliki resiko paling besar dalam hubungan seperti ini, pun jika sang laki-laki mau bertanggung jawab, apalagi jika sang laki-laki pergi meninggalkannya. Pandangan masyarakat terhadap perempuan yang hamil sebelum menikah juga cenderung miring, akibat lanjutannya orang tua malu, anak tertekan hingga mau menggungurkan kandungan dengan resiko sakit dan trauma. Peristiwa mengirikan seperti ini di panggung dangdut dilantunkan dengan candaan.

Yang saya maksud dengan candaan adalah cara menampilkan lagu tersebut baik melalui aransemen maumun tamilan dipanggung adalah musik pengantar pesta. Bagaimana orang bercerita tentang masa depan yang hancur dengan aransemen rancak, penyainya berjingkrak teriak, mengenakan pakaian ketat sambil menggerakkan tubuh dengan gerakan-gerakan erotis.

Lirik lagu adalah karya sastra, padahal menurut Teeuw (1984) sastra adalah peneladanan sekaligus model kenyataan. Sering kita dengar kitika seseorang melihat gunung maka kita akan mengatakan “Wah itu seperti lukisan”, disini pemandangan alam sebagai kenyataan dipadankan dengan lukisan yang tidak nyata. Contoh lain, tokoh-tokoh wayang Jawa tidak dinilai tepat dan indahnya berdasarkan kemiripannya dengan kenyataan, justru sebaliknya manusia nyata yang perilakunya dipadan-padankan dengan tokoh-tokoh wayang yang jelas-jelas rekaan itu. “Wah sikapnya kesatria seperti Janaka.” Atau “Kejahatannya melebihi rahwana.”

Artinya apa, lagu-lagu dengan lirik seperti disebut di atas berpotensi menjadi padaan bahkan tolok ukur bagi kehidupan nyata. Mula-mula kenyataan yang tercermin dalam lagu, pada saatnya lagu yang akan menjadi cermin bagi kenyataan.

Kita patut mencurigai bahwa lagu-lagu jenis tersebut diciptakan hanya untuk mendulang uang di tengah persaingan industri musik sekarang ini. Lagu dan tampilan erotis itu merupakan tips untuk “menjual” lagu dengan cepat dan mudah.

Memang melarang, membatasi lagu untuk diperdengarkan berpotensi dituduh membungkam kebebasan berekspresi dan kreativitas seni. Namun, seni yang berorientasi uang dan mengesampingkan akibat-akibat yang ditimbulkan, mengesampingkan perasaan dan pesakitan sesama manusia dalam hal ini perempuan yang menderita akibat hamil sebelum menikah, layakkah dibela? Muhajir Arrosyid, dosen Universitas PGRI Semarang

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on April 11, 2016, in Musik, Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: