MEMAHAMI KARTINI

Foto Karya Jean Demmeni (Majalah Tempo 17 Februari 2008).

Foto Karya Jean Demmeni (Majalah Tempo 17 Februari 2008).

Kartini, seorang perempuan kelahiran Mayong Jepara ini kita kenal sebagai pahlawan emansipasi wanita yang memperjuangkan harkat dan martabat wanita. Kita hanya mengenalnya demikian karena sejarah kolonial memang mengarahkan agar kita memahami Kartini secara sempit belaka. Pemerintah Hindia Belanda sengaja menjerumuskan kita agar tersesat memahami sosok Kartini secara utuh.

Sebenarnya selain ‘pejuang kaumnya’, Kartini adalah sosok pejuang pendidikan, ekonomi pribumi, dan nasionalisme. Seperti diceritakan oleh Pramedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja (2012) bahwa Kartini adalah pemikir moderen Indonesia yang pertama-tama. Ia adalah seorang konseptor. Organisasi kebudayaan, politik sosial yang timbul sesudahnya adalah pelaksana, penerus, dan pengembang atas rumusan yang telah ia buat.

Pendidikan adalah inti dari perjuangan Kartini. Dengan pendidikan, ia ingin ekonomi masyarakatnya terangkat, nasionalismenya tumbuh, dan perempuan memiliki kedudukan yang lebih terhormat.

Tradisi belajar pada lingkungan Kartini telah ditanamkan oleh kakeknya yang seorang Bupati Demak bernama Pangeran Ario Tjondronegoro. Sebelum meninggal ia pernah mengatakan kepada anak-anaknya “Anak-anak, tanpa pengajaran kelak tuan-tuan tidak akan merasai kebahagiaan, tanpa pengajaran tuan-tuan akan makin memundurkan keturunan kita; ingat-ingat kata-kataku ini.

Kritik Kartini tentang pendidikan terhadap Hindia Belanda ia sampaikan dengan keras melalui suratnya kepada Estelle Zeehandelaar tertanggal 12 Januari 1900. Katanya: Orang-orang Belanda itu mentertawakan dan mengejek kebodohan kami, tetapi kalau kami mencoba maju, kemudian mereka bersikap menantang kami. Kalimat pembelaan terhadap rakyatnya semacam ini banyak muncul dalam tulisan-tulisan Kartini dan menunjukkan nasionalisme Kartini.

Tentang belajar kita bisa meniru sikap Kartini. Ia adalah seorang yang sangat gigih. Ia katakan kepada sahabatnya Estella dalam surat yang lain dengan gaya orang ketiga: kecakapannya dia tidak mau kalah dengan kawan-kawannya kulit putih, yang berangkat ke Eropa, atau abang-abangnya yang mengunjungi HBS. Kartini adalah seorang pembaca yang lahab. Segala yang jatuh di matanya entah itu koran, buku semua dia baca sampai habis. Kartini juga sosok yang kritis. Ia tidak mudah percaya dengan bujukan dan rayuan. Pernah sebuah koran di Belanda berkeinginan untuk menayangkan tulisan-tulisan Kartini, dengan enteng Karini berkata: De Hollandsche Lelie menyediakan kolom-kolomnya bagiku, dan direktrise yang terdahulu yang terdahulu berkali-kali meminta izin mengumumkan surat-suratku; mengapa? Buat reklame!

Melalui pendidikan ia ingin memperbaiki kesenian rakyat. Katanya mendidik rakyat adalah memberbaiki kesenian rakyat kedalam bentuk yang sudah diperbaiki. Ia juga berjuang untuk mengangkat kesenian ukir Jepara sehingga terkenal sampai manca sampai hari ini. Tentang ini ia memiliki cara yang unik. Ia sangat mengenal budaya feodal, kalau atasan sudah menggunakan mebel ukir dari Jepara maka bahwahan pasti akan meniru maka dia promosi terlebih dahulu kepada orang atasan dan terbukti pejabat rendahan mengikuti menggunakan mebel buatan Jepara sehingga meningkatkan penghasilan pengrajin ukir Jepara.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa peran Kartini dipersempit hanya sebagai ‘pejuang kaumnya’ bukan pejuang bangsanya? Hal ini merupakan politik kolonial Hindia Belanda. Sosok seperti Kartini telah dihalang-halangi oleh sistem yang sedemikan rupa. Untuk menulis di koran, tulisannya harus terlebih dahulu dibaca oleh orang tuanya. Orang tuanya adalah seorang bupati yang mau tidak mau harus tunduk dengan aturan-aturan pemerintah Hindia Belanda. Sekali Kartini kerlewat kritis maka akan menyulitkan orang tuanya sendiri.

Digambarkan oleh Onghokham dalam buku Runtuhnya Hindia Belanda (2014) betapa seriusnya pengawasan pemerintah Hindia Belanda terhadap segala hal yang mengarah kepada cita-cita nasionalisme dimana orang-orang terpelajar yang pernah mengenyam pendidikan semuanya mendapatkan pengawasan secara serius.

Sebab lain kenapa Kartini disalah pahami dan perannya dipersempit adalah pemerintah Hindia Belanda mengontrol melalui badan penerbitan miliknya bernama Balai Pustaka. Buku tetang Kartini yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane menggambarkan Kartini yang melankolis, gampang menangis dan menghilangkan sisi-sisi pembelaan Kartini terhadap negerinya.

Buku tersebut hanya sedikit menyertakan surat-surat yang dikirimkan kepada Estella yang bernada protes terhadap pemerintah kolonial. Buku ini seperti ingin menggiring pendapat kita untuk menyalahkan ‘adat’ sebagai sebab dari penderitaan Kartini. Begitulah politik Hindia Belanda melaui dunia perbukuan, hal ini mirip dengan novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli yang juga menyalahkan ‘adat’ sebagai biang keladi kesengsaraan tokoh utama. Dengan buku-buku semacam ini pemerintah Hindia Belanda seakan ingin mengatakan bahwa; adatlah yang menyengsarakan rakyat dan kolonialisme datang untuk menyelamatkan.

Ketersesatan kita dalam memahami Kartini semakin menjadi pada hari-hari ini. Hal itu terlihat dari acara-acara seremoni dalam peringatan Hari Kartini yang hanya sebatas baju kebaya, upacara yang dipimpin perempuan, lomba memasak, dan lain-lain. Mari kita baca dan maknai ulang Kartini dengan membaca lebih cermat tulisan-tulisan Kartini dari berbagai buku agar tidak semakin tersesat.  SELAMAT HARI KARTINI. (Muhajir Arrosyid).

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on April 21, 2016, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: