MAHASISWA DAN 18 TAHUN REFORMASI

mahasiswa dan reformasiHarus disadari, perjalanan negeri ini selalu bertumpu pada apa yang dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa adalah pendulum kemana negeri ini melangkah. Reformasi 18 tahun yang lalu adalah salah satu contoh paling nyata. Bagaimanakah citra mahasiswa setelah 18 tahun reformasi, yang diperingati pada setiap 21 Mei?

Mahasiswa mendapat tempat istimewa di negeri ini. Betapa tidak, saking gembiranya menyambut kaum intelektual yang diharapkan menjadi tumpuan masa depan bangsa tersebut, sampai-sampai para pendahulu kita memberi nama mereka dengan awalan kata ‘maha’. Kata maha identik pada hal-hal yang besar, agung, tinggi bahkan berkaitan dengan sifat ketuhanan, seperti maha esa, maha pemurah, maha pengasih, maha pemaaf.

Jika hanya dilihat dari tingkatannya sebenarnya mahasiswa sama dengan pelajar hanya tingkatnya lebih atas. Namun karena besarnya harapan negeri ini terhadap kaum terpelajar jenis ini disematkalah kata maha. Maha dalam kamus umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadaminta (1987) artinya besar, amat, yang teramat. Sedangkan siswa artinya adalah pelajar.

Mahasiswa adalah manusia-manusia yang telah disiapkan oleh kampusnya untuk menjadi pribadi-pribadi yang matang dan siap difungsikan di masyarakat. Ia mampu berkomunikasi dengan masyarakat, mampu menyelami persoalan di masyarakat, dan datang memberi solusi.

Ketika medengar mahasiswa turun ke jalan, menuntut penguasa turun, menolak kebijakan, masyarakat percaya karena mereka adalah orang yang telah matang berpikir dan bersikap. Citra mahasiswa sebagai tukang tuntut dan tukang tolak ini cukup melekat kuat. Mereka satu nafas dengan rakyat. Jika tidak percaya ketiklah kata ‘mahasiswa’ di mesin pencari google, maka kita akan mendapatkan sekelompok orang berseragam jas berbagai warna mengepalkan tangan, mengikatkan kepala, membawa mengeras suara, berdemo. Gambar semacam ini sampai kini masih mendominasi di internet.

Jika pelajar SMP, SMA hanya berkewajiban untuk belajar, mahasiswa harus lebih dari itu. Mahasiswa hadir sebagai kontrol dari pemerintahan dan penggerak rakyat.

Citra

Namun saat tersiar kabar mahasiswa tawuran maka gambaran yang telah terbangun bahwa mahasiswa adalah insan yang matang hancur sudah. Kata ‘maha’ yang diteriakkan dalam ‘mahasiswa’ menjadi diragukan.

Dalam setiap penggalan sejarah negeri ini mahasiswa selalu hadir sebagai tonggak, pencetus, dan penggerak. Dari mahasiswa tercetuslah sumpah pemuda, kita juga mengenal aktivis angkatan 1966 menggulingkan Soekarno, aktivis angatan 1998 menggulingkan pemerintahan Soeharto. Mahasiswa bergerak karena mencium adanya kasus-kasus yang tidak benar seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam pemerintahan. Mahasiswa menjadi lawan kata dari praktik perusak bangsa tersebut. Mahasiswa adalah simbul moral bangsa.

Namun ketika ada berita di televisi yang menyatakan beberapa mahasiswa bahkan berjuluk aktivis tertangkap polisi dan divonis bersalah karena kasus korupsi, maka bencanalah yang terjadi. Aktivis mahasiswa itu dinyatakan bersalah telah melakukan korupsi dana bansos pemrov Jateng 2011. Aktivis ‘mahasiswa’ adalah pasukan elit mahasiswa. Jika berdemo mereka berada digaris depan menuruskan barisan dan meneriakkan tuntutan.

 

Diutarakan oleh Dhakidae (2015), Soe Hok Gie mengibaratkan seorang mahasiswa seperti cowboy, datang ke sebuah daerah yang dirongrong bandit-bandit, bertarung melawan bandit-bandit itu, dan pergi setelah sebuah daerah bersih dari bandit. Mahasiswa menurutnya tidak butuh sanjungan, pujian, dan imbalan. Jika keadaan sudah reda mahasiswa kembali lagi ke kampus untuk belajar.

Definisi Soe Hok Gie tentang mahasiswa luluh sudah. Mahasiswa yang dicita-citakan, yang tanpa pamrih, pujian, malah meminta jatah.

Tidak hanya itu, di televisi yang kita saksikan sekarang mahasiswa hadir dan dihadirkan sebagai penonton acara talk show, mereka duduk di kursi penonton mengenakan jas almamater sambil tertawa terbahak-bahak. Betapa mengecilnya peran dan citra mahasiswa.

Ini tentu keadaan yang berbahaya bagi mahasiswa. Kenapa? Tentang korupsi, mahasiswa tidak lagi bisa lantang mengkrtisi masalah-masalah moral karena dirinya saja masak ke dalam kubangan korupsi. Mau tidak mau kepercayaan masyarakat luntur. Kedua, kita juga patut khawatir karena wabah korupsi tidak hanya di kalangan pejabat tetapi sudah menurun hingga tingkat mahasiswa. Kaum yang kita bangga-banggakan akan menjadi penjaga moral dan penyambut estafet kepemimpinan negeri ini.

Tentang tawuran, mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai insan dewasa yang cukup mampu berpikir, bertindak secara kritis dan benar.

Mahasiswa juga harus sadar bahwa kehadirannya di stasiun televisi hanya diperalat menjadi penonton. Sebuah acara jika ditonton oleh mahasiswa (berjas almamater) seolah acara tersebut bersifat intelektual dan berkelas. Sadarlah mahasiswa kamu diperalat.  Selamat hari reformasi.

 

Muhajir Arrosyid, dosen FPBS Universitas PGRI Semarang pernah aktif di Pers Mahasiswa, LPM Vokal.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 23, 2016, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: