MENJADI ORANG TUA ALTERNATIF

menguyah rinduWahai para istri dan juga anak, bacalah buku ini. Kau akan mendapati, di balik ketegaran suami dan bapakmu sebenarnya ia menyimpan tangis. Kadang-kadang ia goyah juga saat memimpin bahtera keluarga.

Buku berjudul Mengunyah Rindu karya Budi Maryono ini adalah sebuah catatan harian seorang bapak tentang kejadian-kejadian sehari-hari di dalam keluarganya yang pada mulanya tertuang dalam blog pribadi. Dibuka dengan sebuah catatan berjudul “It’s Show Time” tertanggal 4 Juni 2005 dan ditutup sebuah catatan berjudul “Berapa Sering Berapa Banyak” tertanggal 28 Juli 2010. Buku ini total menyanjikan 124 judul catatan.

Meskipun di cover belakang buku ini diterakan kategori novel, namun pada kenyataannya buku ini adalah buku harian. Mirip dengan biografi keluarga. Membacanya kita akan berkenalan dengan Tia, si anak pertama, Biru, si anak kedua, dan Gigih, anak ketiga, persis sebagaimana kehidupan sang penulis.

Kisah empatik itu misalnya tertera pada catatan berjudul “Kukirimkan kasih sayang lewat rangkulan” sebuah catatan tertanggal 15 Juli 2005. Tia, anak pertama lulus SD dan mencari sekolah lanjutan. Sang Bapak hanya mengantar Tia ujian seleksi dan membiarkan Tia berjuang sendiri. Akhirnya Tia tidak lolos di sekolah negeri yang diinginkannya.

Tentu saja bocah perempuan itu sedih, kecewa, dan malu. Pada saat seperti inilah kehangatan orang tua dibutuhkan. Sang Bapak datang dan memberi pelukan sambil bilang, “Bapak juga sedih, Nduk. Tapi nggak kecewa, apalagi malu. Jalan masih panjang. Di SMP mana pun, sekarang kamu punya kesempatan untuk jadi lebih baik. Belajar secukupnya, main secukupnya, tidur secukupnya. Jangan ada yang kurang, jangan ada yang berlebihan…” (hal 29)

Tindakan seperti inilah yang dibutuhkan oleh anak yang jarang diberikan oleh orang tua pada umumnya. Saat memasukkan anaknya di sekolah, secara terang-terangan biasanya orang tua mempertunjukkan perilaku koruptif dengan melobi, menyuap, dan segala cara agar sang anak diterima. Perilaku seperti itu secara tidak sadar memberi contoh kepada anak cara-cara menyelesaikan persoalan. Tertanam dalam kepala anak, bahwa menyelesaikan masalah adalah dengan menyuap. Saat anak gagal, biasanya orang tua terburu-buru uring-urungan, menuduh anak kurang belajar, kemampuannya rendah, dan lain sebagainya. Anak dalam kondisi kecewa akan tambah terpuruk oleh tindakan orang tua yang seperti itu. Buku ini mengajarkan yang sebaliknya.

Rhenald Kasali membedakan dua jenis manusia yaitu manuisa bermental driver dan passenger. Menjadi manusia pengendara yang bertanggung jawab atau sekedar menjadi pengikut. Banyak orang-orang sukses dalam karier tetapi tidak mampu mendidik anaknya untuk sesukses dirinya. Akibatnya anak tersebut tidak mampu meneruskan usaha. Anak itu tidak membuat usaha orang tuanya tambah moncer justru sebaliknya menggrogoti harta.

Buku Mengunyah Rindu mengajarkan anak untuk memiliki mental seorang driver. Lagi-lagi buku ini menawarkan cara-cara sederhana. Misalnya dalam catatan berjudul “Bajak Laut di Swalayan” mengisahkan tentang Biru yang meminta mainan. Mental driver Biru sudah mulai muncul. Tanggungjawab itu terlihat saat Biru mengeluarkan tabungan yang ia kumpulakan sendiri dari sisa uang jajan. Ternyata uangnya tidak cukup. Sang Bapak tidak lekas mengabulkan permintaan Biru. Antara bapak dan anak itu tawar menawar terlebih dahulu. Akhirnya sang Bapak bilang. “Kamu cari mainan yang tidak terlalu mahal. Bapak mau nambahi asal sedikit.” Sebuah sikap sederhana tetapi berarti. Orang tua yang terlalu mudah meluluskan permintaan anaknya membuat anak tidak berpikir alternatif, anak juga menjadi manja dan kurang bisa menghargai uang.

Dalam pembuka penulis menyampaikan “Bagi keluarga Indonesia, bagi anak dan orang tua.” Buku ini memang layak dibaca sebagai referensi bacaan keluarga. Di sana menyajikan acara-cara alternatif menyelesaikan masalah keluarga, dengan syukur, sabar dan tawa. Seorang Bapak, kadang haru, sedih karena belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan manahan air mata, seperti diakui penulis. Tidak seperti yang dicitrakan selama ini, Bapak melulu tegas, galak, dan kuat.

Jika ada yang perlu disayangkan adalah, daftar isi dalam buku ini tidak menyantumkan halaman, menyusahkan pencarian. Demikian. (Muhajir Arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 30, 2016, in Buku, Resensi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: