Tersesat bersama Bayu Pratama

tersesatMinggu 29 Mei 2016, Solopos mengeluarkan cerpen berjudul Lelaki yang Sering Tersesat karya Bayu Pratama. Dengan segala kewaguannya cerpen ini tetap menyampaikan sesuatu. Saya hendak mengulas kewaguan itu dan sesuatu yang menarik yang hendak ia sampaikan.

Saya menemui kewaguan Bayu dalam membangun kalimat. Di paragraf pertama saya sudah diganggu dengan kalimat yang terasa janggal di dengar, “Saya hanya tidak sengaja tersesat. Yang mana membuat saya sering terlambat.” Kalimat ini seperti kalimat para pejabat saat menyampaikan pidato peresmian gedung di zaman orde baru.

Ada lagi lakimat sejenis ini, kalimat itu berada di paragraf ke lima. “Dulu pernah ada saya tarik kesimpulan….” Kalimat ini terdengar janggal. Gak enak didengarkan. Kalimat-kaliamat ‘jadul’ semacam ini masih saya jumpai di paragraf-paragraf berikutnya.

Kewaguan lain selain bangunan kalimat adalah bangunan logika. Bayu menulis untuk menggambarkan kedunguan tokohnya: “Saya juga tidak tahu saya di mana. Jadi bagaimana saya mau menjelaskan padanya saya sedang berada di mana?” Tokoh yang dibangun oleh Bayu ini bukan tokoh yang pelupa tetapi tokoh yang bodoh. Sebenarnya dia bisa bertanya sekarang dia sedang berada di mana. Di zaman serba canggih ini Hp bisa sangat membantu. Orang semacam ini juga bisa mengandalkan catatan. Jika lupa, bisa dibuka lagi catatan tersebut.

Namun ada juga hal menarik yang patut diacungi jempol pada cerpen ini. Bayu mengajak pembaca untuk mempertanyakan ulang konsep jender. Selama ini masyarakat menyamakan saja apa itu jender dengan kodrat. Selama ini sudah kadung terbangun di batok kepala masyarakat bahwa kodrat perempuan itu cengeng, lemah, dan pelupa. Padahal itu bukan kodrat, ini adalah bentukan budaya yang dapat dipertukarkan. Di suatu kesempatan, laki-laki bisa cengeng, bisa pelupa juga.

Kodrat adalah yang tidak bisa dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan, seperti melahirkan, menstruasi, penis, payudara, dll. Sedangkan memasak, menjahit, mencari nafkah, adalah konsep jender yang satu sama lain bisa dipertukarkan. Artinya memasak bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan, demikian juga dengan memasang genteng juga bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.

Cerpen yang sedang kita bicarakan ini menunjukkan kepada kita tentang hal ini. Sebelumnya sang tokoh mengira bahwa yang pelupa itu perempuan, teranyata dia yang laki-laki juga bisa mengalaminya. “Dulu pernah ada saya terik kesimpulan; tersesat, keluar jalur, salah jalan, salah jalan, itu tugas wanita. Karena itu laki-laki lah yang harus jadi pemimpin. Laki-laki harus jadi depan, menunjuk jalan yang benar.”

Ketersesatan sang tokoh bertambah-tambah karena ia bertanya kepada orang yang sesat. Ia bertanya kepada dukun. Setelah percobaan pertamanya untuk kesembuhan dirinya atas saran dukun gagal, ia masih mempercayai perkataan dukun itu lagi. Ia tersesat untuk kesekian kali. (Muhajir Arrosyid).

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 30, 2016, in Kritik Sastra. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. wah, itu wagu ternyata. terimakasih kritiknya, Mas.

  2. There’s certainly a great deal to learn about this topic.
    I like all the points you have made.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: