Beberapa Alasan Mencium Tangan

cium tanganBeberapa semester yang lalu saya mengumumkan kepada mahasiswa saya untuk tidak mencium tangan saya ketika salaman. Terus terang saya kikuk saat mahasiswa yang sudah sebesar itu, sedewasa itu mencium tangan saya. Sebagai dosen, saya tergolong dosen muda, jadi saya merasa tidak layak diberi penghormatan dicium tangan. Apalagi mahasiswa itu perempuan.

Saya hidup di lingkungan cium-mencium tangan. Kepada Bapak-Ibu, Pak De, guru ngaji, dan guru sekolah, kakak, saya mencium tangan. Tapi selain itu saya tidak melakukannya.

Saya tidak menyalahkan mahasiswa yang mencium tangan saya tadi. Saya dosennya, jika di tingkat sekolah dosen samadengan guru. Guru  memang layak diberi penghormatan oleh siswanya dengan cara demikian.

Saya pikir-pikir, untuk apa orang mencium tangan orang lain? Tujuannya apa seseorang mencium tangan orang lain. Saya mencium tangan ibu saya karena saya ingin menunjukkan rasa hormat saya terhadap beliau. Saya juga ingin menunjukkan sikap sayang, tunduk, tawadhu kepada beliau.

Demikian pulalah (mungkin) alasan para mahasiswa saya itu ketika mencium tangan saya. Maka pada suatu hari saya bilang kepada mereka, “Saya sudah merasa kalian hormati dan sayangi meskipun Anda tidak mencium tangan saya.” Duh masih saja ada yang mencium tangan saya.

Masalah mencium tangan pernah beberapa kali menjadi bahan omongan di jagat politik negeri ini. Anas Urbaningrum saat menjadi ketua partai demokrat pernah mencium tangan SBY. Hal serupa dilakukan oleh Jokowi saat belum menjadi presiden, dia mencium tangan Megawati. Cim tangan mereka ditafsir oleh para pengamat politik.

Setiap amal memungkinkan adanya pamrih lain. Sholat, yakat, shodakoh memang dilafalkan niat untuk Allah taala. Namun, siapa bisa mendengar berisik di dalam hati. Keinginan-keinginan lain selain Allah, misalnya saja agar mendapat pujian, agar dipandang sebagai dermawan, dan lain sebagainya.

Saya menduga, saya berprasangka buruk, meskipun berprasangka buruk itu dilarang agama, saya menduga amal berupa mencum tangan itu juga tidak semuanya dilakukan dalam rangka ungkapan hormat tetapi (bisa saja) dengan alasan menjilat. Hal itu mungkin dilakukan oleh mahasiswa terhadap dosennya, bawahan terhadap atasan, calon menantu terhadap caloan mertuanya, dll. Maka sebagai pencium tangan dan yang dicium tangan kita perlu waspada.

Khotib khotbah idul fitri di kampung saya beberapa hari yang lalu menyampaikan bahwa mencium tangan itu sudah dilakukan di zaman kholifah. Alasan mencium tangan adalah karena kenyakinan bahwa tangan yang ia cium adalah tangan yang selalu digunakan untuk memegang tasbih, Al Quran dan melakukan hal-hal baik.

Sekarang saya biarkan saja ketika mahasiswa mencium tangan saya. Saya pikir itu adalah amalnya, yang penting hati saya tidak berubah. Sialnya saking seringnya dicium tangan, tangan saya otomatis mengangkat saat salaman, bukan hanya ketika salaman dengan mahasiswa tetapi juga saat salaman dengan sesama dosen atau bahkan orang yang lebih tua. Duh.

Semoga saja kita termasuk orang yang mencium tangan dengan alasan yang benar dan bersih dan jika kita dicium tangan tidak menepuk dada dan merasa menjadi orang yang besar dan bersih. (Muhajir Arrosyid).

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 10, 2016, in buku harian, Opini and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: