Hidangan Lebaran

Lebaran dan hidangan tidak dapat dipisahkan. Hidangan digunakan sebagai media penghormatan bagi tuan rumah kepada tamunya. Selain baju baru, hidangan masuk dalam daftar anggaran belanja lebaran yang tidak mungkin di lewatkan. Ibu-ibu sudah menyiapkan hidangan jauh-jauh hari sebelum hari H. Ada yang menyempatkan diri membuat sendiri tetapi ada juga yang membelinya di toko.

Hidangan lebaran benar-benar masalah serius yang tidak bisa dianggap enteng. Menolak hidangan bisa dianggap penghinaan. Seorang nenek yang menawari cucunya makan opor dan cucunya menolak bisa menjadi rusaknya hubungan. Nenek itu bisa menangis karena merasa terhina. Ia merasa hidangannya tidak layak dimakan.

Saat lebaran, saya bisa makan sampai lima kali bahkan lebih dalam sehari. Karena di setiap rumah menawarkan hidangan makan besar. Di hari pertama lebaran bisanya saya silaturahmi ke rumah Mak De-Pak De, saya lalui jalan kaki dari satu rumah ke rumah yang lain. Dulu di setiap rumah ini saya juga diwajibkan makan. Alhamdullulilah sekarang sudah tidak (memaksa makan). Di hari kedua biasanya saya berkunjung ke kakak-kakak sepupu yang rumahnya agak jauh. Saya mengendarai sepeda motor. Dari sekitar sepuluh  rumah yang saya kunjungi, paling tidak ada enam rumah yang menghidangkan makan besar. Pertama di Pak De Sukiman, bisanya dihidangkan lontong dan opor ayam. Kemudian di Mbak Mut, biasanya dihidangkan sayur glandir atau mia ayam, di Mbak Warok dihidangkan gendar pecel, di Mbak Mas dihidangkan gule kambing, terakhir di Mas Topik di hidangkan sayur asem-asem. Uniknya, setiap tahun, sejak aku masih kecil menu hidangan di rumah-rumah tersebut tidak pernah berubah.

Karena saya berkunjungnya tidak sendirian tetapi berombongan maka makan atau tidak makan tidak begitu kelihatan. Tetapi biasanya kami makan meskipun hanya sedikit.

Setiap lebaran memiliki hidangan favorit. Dulu hidangan favorit dan dianggap berkelas adalah emping mlinjo. Tidak setiap rumah mampu menghidangkan emping mlinjo tersebut. Waktu saya kecil, tahun 1990-an, di kampung saya, hidangan masih didominasi oleh makanan yang di buat sendiri seperti criping pisang, criping ketela, warneng jagung, krupuk gendar, rengginang. Hidangan karya sendiri itu di taruh di kaleng bekas tempat roti.

Hanya pegawai dan orang pabrik yang mampu membeli wafer dan roti-rotian. Jika kamu berkunjung dan tidak ‘icip-icip’ sedikitpun maka kemungkinan akan menyakiti hati tuan rumah dan membuat tuan rumah berpikir, “Hidangan kita jelek bune, mana ada yang doyan.”

Dari tahun lalu (konon) hidangan yang paling berkelas adalah biji mete. Tak semua meja mampu menghidangkan karena harganya mahal.

Tetapi ada fenomena yang terbalik di lebaran kali ini. Krupuk gendar dan krupuk goreng wedi atau grupuk tayamum yang dulu disingkir-singkirkan pada lebaran kali ini menjadi primadona dan banyak dicari. Orang-orang yang berasal dari daerah kami tetapi sudah beranak pinak di daerah lain mencari makanan ini untuk dibawa pulang. Apapun hidangan yang ada di meja semoga saja merupakan ungkapan cinta dari tuan rumah kepada tamunya. Memakannya adalah balasan cinta juga. Sekian. (Muhajir Arrosyid).

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 10, 2016, in buku harian and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: