NARASI PERAYAAN DALAM KEBERAGAMAN

Narasi Salah satu anugrah yang diberikan oleh keanekaragaman yang ada di Republik ini adalah banyaknya jenis perayaan. Perayaan bisa dilatarbelakangi etnis, agama, maupun kenegaraan. Beberapa waktu yang lalu kita merayakan hari raya idul fitri, minggu depan kita merayakan sedekah bumi atau apitan, bulan depan kita merayakan hari raya idul adha, dan seterusnya.

Perayaan-perayaan tersebut terjadi sejak dulu. Catatan tentang perayaan di pulau Jawa seabad yang lalu tercatat dengan apik dalam buku Soeka doeka di Djawa Tempo Doleloe ditulis oleh Olivier Johannes Raap (2015). Buku ini merupakan kumpulan kartu pos yang dikumpulkan oleh penulis kemudian diklasifikasi sesuai tema. 

Perayaan di Jawa ada yang dilaksanakan minguan atau pekanan ada yang dilaksanakan tahunan atau setahun sekali. Adalah kartu pos yang diberi judul “Hari Raya Pekanan” yang dikirim tanggal 1912 berlokasi di Semarang tergambar sekelompok anak duduk ditikar dan melingkar. Mereka ada yang menabuh alat musuk terbang ada pula yang membaca kitab. Dalam keterangan disebutkan bahwa acara semacam ini dilaksanakan pada hari Kamis malam. Tampaknya yang dimaksud hari raya pekanan pada kartu pos ini adalah sholawat berzanzi yang diselengarakan di masjid dan mushola sebahis magrib pada Kamis malam. Sedangkan acara yang diselengarakan setahun sekali dalam buku ini disebut “Acara Tahunan” adalah acara slemetan yang dikenal dengan “sedekah bumi”. Dalam foto kartu pos yang dibuat pada tahun 1920 dengan lokasi di Lembong ini digambarkan orang-orang turun ke jalan dengan memanggul miniatur rumah yang berisi makanan dan hasil bumi.

Selain itu terdapat juga perayaan kegamaan. Terdapat perayaan etnis Tionghoa seperti Cap Go Meh (1910), Hari Raya Pehcun (1910), Hari Raya Cioko (1900). Hari raya pehcun yang diselenggarakan di Batavia tergambar sebuah perlombaan balapan menggunakan perahu naga. Perlombaan diselenggarakan di sungai. Dalam keterangan foto diterangkan bahwa hari raya peh cun diselenggarakan pada hari kelima bulan kelima Imlek (sekitar bulan Juni). Terdapat juga kartu pos yang menunjukkan perayaan Natal. Kartu Pos menunjukkan foto di sebuah gereja di Blora. Di tengah-tengah gereja terdapat pohon natal yang dihias lampu. Terdapat empat orang kulit putih, satu orang menghadap piano.

Terdapat juga perayaan adat yaitu grebeg dan sekaten, dan tetesan. Upacara grebeg yang berlokasi di Surakarta Cap Pos tahun 1928 menggambarkan sebuah iring-iringan di sebuah lapangan. Terdapat dua jenis gunungan atau tempung di bawa ke masjid, gunungan kali-laki dan gunungan perempuan. Gunungan tersebut diperebutkan oleh warga karena diyakini berkasiat. Upacara ini masih dilaksanakan hingga sekarang. Perayaan baik yang dilaksanakan di Yogyakarta (1910) maupun yang dilaksanakan di Surakarta  merupakan upacara kenegaraan karena dihadiri pejabat negara. Untuk Grebeg yang diselenggarakan di Yogyakarya dalam kartu pos digambarkan dihadiri oleh Hamengku Buono VII bersama Residen C.M. kitting Oliver dan Paku Alam V.

Sedangkan upacara tetesan yang tertera tahun 1900 adalah upacara yang dilaksanakan untuk anak perempuan sebelum haid pertama, sekitar umur delapan tahun dilakukan sunat untuk anak perempuan.

Terdapat satu lagi kartu pos yang menggambarkan perayaan kenegaraan berjudul “Hari Ratu”. Kartu pos ini memperlihatkan sebuah jalan di Solo pada tahun 1898 yang dihias warna-warni dan gapura yang terbuat dari bampu, kanan dan kiri jalan dihias menggunakan kain. Hari Ratu maksudnya adalah perayaan dalam rangka Ratu Wilhelmina naik tahta pada tanggal 6 September 1898. Tahun berikutnya setiap tanggal 31 Agustus dijadikan hari besar nasional diselenggarakan perayaan memperingati hari kelahirannya. Untuk memperingati itu di kota-kota diselenggarakan karnaval dari berbagai kelompok kesenian, drum band, dan lomba-lomba tradisonal.

Lomba-lomba yang sampai hari ini diselenggarakan adalah panjat pinang dan balap karung. Dalam kartu pos Cap Pos tahun 1911 memperlihatkan perlombaan balap karung yang diselenggarakan di batavia di lapangan Raja sekarang Medan Merdeka. Dalam keterangan foto disebutkan bahwa balap karung merupakan olah raga populer di Belanda pada waktu itu lalu dibawa ke Hindia Belanda, saking polulernya pada tahun 1904 sempat dilombakan dalam olimpiade.

Selain balap karung permainan yang dilombakan untuk meramaikan perayaan pada zaman dulu dan ada hingga sekarang adalah panjat pinang. Dalam kartu pos tahun 1940 ini memperlihatkan anak-anak sedang memanjat pinang. Dalam keterangan foto dijelaskan bahwa panjat pinang merupakan permainan warisan dari zaman kolonial Belanda. Mulanya awak-awak kapal bermain permainan ini menggunakan tiang layar.

Sebuah perayaan pasti ada tujuan. Jika perayaan adat biasanya adalah bahasa umat untuk menyampaikan syukur atas limpahan nikmat kepada sang pencipta, maka perayaan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia adalah rasa syukur kepada Tuhan karena telah diberi kemerdekaan.Tujuan lain adalah dalam rangka menghargai jasa para pejuang. Dalam perayaan kita boleh bersuka ria tetapi jangan lupa harus tetap ada penghayatan. Selamat merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 71. Merdeka.

Muhajir Arrosyid, dosen Universitas PGRI Semarang.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 22, 2016, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: