SEKOLAH SAK MADYA

Sekolah sak madyaMelalui foklore, leluhur kita telah membagi peruntukan waktu. Kapan harus sekolah, istirahat, dan beribadah. Semua harus seimbang, yang satu tidak boleh menyingkirkan yang lain.

Beberapa waktu yang lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melontarkan ide tentang model sekolah full day school. Menurutnya full day itu adalah cara pemerintah mendongkrak pendidikan yang masih rendah. “Kalau ini memang base practicenya bagus kenapa tidak. Kalau swasta mengalami dampak bagus dengan full day ini, kenapa tidak kita naikkan statusnya, (ke sekolah megeri)” ucap Muhadjir.

Ada satu tembang Jawa yang saya ingat berjudul ‘Esuk-esuk Srengengene. Dulu, lagu ini diperdengarkan oleh simbah dan ibu kita dengan tujuan memberikan gambaran pada anak-anak jika sekolah itu menyenangkan dan sederhana, yaitu berangkat pagi, pulang siang, dan sore dilanjutkan belajar di rumah. Semua itu dilakukan dengan hati yang gembira dan sak madya. Sak madya sesuai dengan karakter orang Jawa yang artinya cukup, tidak berlebihan.

Sekolah sak madya

Pada bait pertama tembang ‘Esuk-esuk Srengengene’ ini berbunyi demikian: “Esuk-esuk srengengene lagi metu, Sibu/ Nyuwun pangestu kang putra badhe sinau , Sibu//” (Pagi-pagi mataharinya terbit, Ibu/ minta restu si anak akan belajar, Ibu//). Lirik ini memberikan gambaran pada anak jika sekolah itu diawali pada pagi hari bersamaan dengan matahari terbit. Kesibukan sekolah dimulai saat matahari terbit yaitu sekitar pukul 06.00.

Pada bait ke dua berbunyi demikian: “Awan-awan srengengene ana tengah, Simbah/ Bungah-bungah kang wayah mulih sekolah, Simbah//” (Siang-siang mataharinya di tengah, Simbah/ yang pulang sekolah hatinya senang, Simbah//). Dahulu, sekolah diselenggarakan dengan rentang waktu yang sak madya atau secukupnya. Saat ini, sekolah-sekolah saling berlomba pulang sore dengan alasan belajar intensif. Anak-anak pulang dengan tidak ‘bungah’ atau  senang lagi, wajahnya muram karena terlalu lelah sekolah. Kelelahan itu ditambah dengan beban buku pelajaran yang banyak di punggungnya.

Bait ketiga lagu ini berbunyi: “Sore-sore sinau ana ing sabak, Bapak/ grip lan sada wis gumlethak jroning kotak, Bapak//” (Sore-sore belajar menggunakan sabak, Bapak/ tempat pensil dan lidi sudah tergeletak dalam kotak, Bapak//). Waktu sore adalah waktunya belajar di rumah, mengulang kembali pelajaran yang di dapat di sekolah.

Sore adalah seba

Full day membuat anak tak bisa bercakap dengan lingkungan sekitarnya. Karena terlalu lama belajar di sekolah, energi anak habis dan tak ada kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggal. Maka, konsep waktu sekolah yang sak madya perlu diterapkan agar hidup anak selaras.

Ada kata yang menarik pada bait ketiga yaitu kata ‘sore’. Dalam masyarakat Jawa, sore adalah waktunya untuk leren atau istirahat. Hal ini seperti halnya konsep seba dalam lagu ‘Lir Ilir’ pada lirik: ‘kanggo seba mengko sore”. Seba artinya ngadhep ing ngarsane priyayi gede (para luhur). Lebih jauh lagi, seba memiliki makna menghadap Illahi (ngadhep marang Gusti). Franz Magnis Suseno dalam buku Etika Jawa mengungkapkan bahwa  masyarakat Jawa memiliki kesadaran bergantung pada yang Illahi dan hal ini merupakan latar belakang kesadaran orang Jawa: “jangan melupakan asalmu” (Aja lali marang asale) merupakan peringatan yang sering terdengar. Orang hendaknya ingat (eling) dan mempercayakan diri pada bimbingan yang Illahi (mituhu) (1996: 141).

Sore seiring matahari tenggelam adalah waktu istirahat untuk menghentikan aktivitas duniawi. Sore adalah waktu untuk seba, kembali pada hal-hal yang spiritual. Sore mengingatkan manusia Jawa akan hidup yang sementara dan akan kembali pada asalnya. Untuk kembali, manusia harus memiliki ‘sangu’. Sangu atau bekal kematian adalah amal baik yang didapat dari belajar ilmu agama. Pada masyarakat Jawa, biasanya sepulang dari sekolah anak istirahat sebentar di rumah. Pada sore hari anak belajar kembali di sekolah Madrasah Diniyah untuk belajar ilmu agama. Malam hari setelah maghrib dilanjutkan belajar ilmu Al-Quran.

Lagu ini sarat pelajaran menjadi manusia Jawa yang seimbang. Sayangnya, sekolah penuh hari menggusur kearifan lagu ‘Esuk-esuk Srengengene’. Rentang waktu yang lama di sekolah membuat anak sudah lelah ketika sampai di rumah. Akibatnya, aspek spiritual dan hubungan anak dengan masyarakat tempat tinggalnya menjadi terbengkalai. Kepada anak-anak kita lupa mengajarkan tentang pelajaran keselarasan. Pertimbangkan lagi sekolah penuh waktu itu Pak Menteri. ***

 

*Tri Umi Sumartyarini, Pendidik PAUD Ken Amanah, Cabean Sidorejo Karangawen Demak.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 16, 2016, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: