DIMAS KANJENG, SANTRI, DAN NABI SULAIMAN

dimas-kanjengHari-hari terakhir ini, kita di cekoki berita-berita semacam ini: “Santri Dimas kanjeng taat pribadi masih tetap bertahan” atau “Dimas kanjeng diduga membunuh santrinya”, dan segala macam berita yang mengaitkan antara orang yang mengaku dapat menggandakan uang itu dengan santri. Pertanyaannya adalah, siapakah santri itu? Pertanyaan ini perlu dijawab, mengingat hal ini akan mencemari nama baik santri. Sebuah kado yang menyesakkan dada menjelang peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober nanti.

Tidak ada yang menyebut bahwa apa yang dikelola tersangka pembunuhan ini adalah pesantren. Yang dirikan oleh Dimas Kanjeng adalah padepokan. Maka harusnya tidak menggunakan kata santri untuk menyebut para pengikutnya. Santri sangat terkait dengan pesantren, dan ulama. Santri adalah orang yang belajar dan pesantren adalah tempat belajar, dan ulama adalah orang yang berilmu yang diharapkan ilmunya. Yang mempertemukan antara santri, pesantren, dan ulama adalah ilmu. Kata lain yang bisa digunakan untuk menggantikan santri adalah murid yang artinya orang yang mengharapkan dan murod adalah orang yang diharapkan. Murid adalah orang yang mengharapkan ilmu dan murod adalah orang yang diharapkan ilmunya. Bertemunya santri dengan ulama, murid dengan murod adalah proses belajar, bagaimana ilmu ditularkan melalui pembelajaran dan keteladanan. Dan puncak-puncak pencapaian dari hubungan mereka tiada lain adalah ketakwaan dan Rindha Allah.

Abdurahman Wahid atau yang biasa dipanggil Gus Dur pada 5 Oktober 1985 dalam Majalah Tempo menerangkan tentang penggunaan istilah untuk menyebut guru ini. Gus Dur menerangkan  orang Jawa memanggil guru agamanya kyai, orang minang lebai, di Iran dan Irak disebut mulla, di Syria, Libanon, dan Mesir dipanggil Muallim.

Dalam pesantren harus ada muallim yang artinya mengajar, dan juga harus ada proses taklim atau pengajaran. Mengajar dalam konteks ini adalah mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam. Jika guru yang mengajarkan ilmu umum disebut  mudarriss atau ustad.

Dalam kitab Ta’lim Muta’alim, Ulama, Alama, atau Kiai adalah penguasa ilmu yang harus dihormati dan dimuliakan para santri sebagai penuntut ilmu. Penghormatan dari para santri kepada Kiainya adalah mengikuti perintah dan permintaannya dan Kiai adalah pribadi yang tawaddlu’ dan keikhlas.

Kemudian apa yang dapat kita lihat dari padepokan Dimas Kanjeng selain ketamakan dan keserakahan. Tujuan akhir dari pertemuan antara Dimas Kanjeng yang menasbihkan diri sebagai raja dengan pengkutnya tidak lain hanyalah kekayaan. Jauh dari cita-cita Islam yaitu kedamaian. Tidak ada pembelajaran di sana. Ciri-ciri pesantren sudah runtuh.

Simbul-simbul keislaman dalam padepokan itu hanya digunakan sebagai alat untuk menarik praktisan mengingat penduduk Indonesia kebanyakan beragama Islam. Cerita berikut ini bisa digunakan sebagai contoh. Seorang bapak-bapak dari Karangawen Demak dijemput dari padepokan Dimas Kanjeng. Ia menasbihkan diri sebagai pengikut dan berharap uangnya dapat berlipat ganda. Setelah ditanya alasannya pergi ke sana, dia menjawab: “Di sana saya tidak melakukan hal-hal yang menyalahi aturan agama. Saya juga wiridan, sholat, mengaji.”

Cara-cara inilah yang digunakan oleh Dimas Kanjeng untuk mengelabui para pengikutnya. Ia mengesankan dirinya sebagai orang yang taat. Apa yang dilakukannya seolah-olah atas Rindha Allah atau bahkan karomah dari Allah.

Padahal Islam mengajarkan kepada kita untuk hati-hati terhadap apa saja. Hal-hal yang ada di sekeliling kita bisa menjadi hijab atau penghalang bertemunya hati kita kepada tujuan hidup kita Allah SWT termasuk harta benda. Muhamad SAW mengajarkan kepada kita tentang kesederhanaan.

Marwah Daud membandingkan antara Taat Pribadi dengan Nabi Sulaiman, utusan Allah yang dikenal kaya raya. Nabi Sulaiman bahkan mampu memindahkan Istana Ratu Bilqis. Narasi inilah yang membuat banyak orang kepencut.

Nabi Sulaiman memang kaya raya, ia juga mampu berkomunikasi dengan binatang, namun kekayaannya itu ia anggap kecil, remeh. Saat ia melihat singgasana Bilqis ada dihadapannya, ia berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mencoba apakah aku bersyukur atau mengingkari akan nikmatNya.”. Semua ia kembalikan kepada Allah.

Akhirnya, perlu saya sampaikan bahwa menyebut pengikut Taat Pribadi sebagai santri adalah pengaburan makna kata santri. Karena orientasi santri yang taklim itu bukan materi, ia adalah para pemebelajar yang berharap keberkahan ilmu.

 

Muahjir Arrosyid – dosen Universitas PGRI Semarang, pegiat Komunitas Literasi Demak.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Oktober 17, 2016, in Opini and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: