Masjid dan ciri Tradisi

23-11-2016-opini-mas-hajirSuatu ketika di hari Minggu saya mengajak keluarga jalan-jalan menyusuri pelosok kampung-kampung di Demak. Jalan sudah relatif bagus karena program mengerasan melalui betonisasi sudah sampai ke ujung-ujung kampung. Di perjalanan itu saya mendapati perubahan, rumah-rumah berangsur berbenah, dari yang mulanya kayu bergaya arsitektur limasan atau joglo berubah menjadi tembok, yang mulanya memiliki halaman menjadi mepet ke jalan. Satu lagi, masjid-masjid banyak yang direnovasi, yang mulanya berbentuk beratap tumpang berubah kubah dan bermenara meniru gaya Mughal, arsitektur yang terpengaruh dari India abad 16. Cirinya adalah dinding dan pintu gerbang melengkung, menara ganda berbalkon, dan atap kubah. Ada juga yang meniru masjid Quba di Madinah, atau qubah yang besar seperti masjid Umar di Baitul Maqdis, atau menara empat mengelilingi qubah sebagaimana Masjid Al Azhar Qairo, Mesir.

Perubahan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Perubahan rumah yang dibangun tanpa halaman mengakibatkan beberapa hal. Pertama, orang-orang desa yang masih berpenghasilan dari hasil bertani ini tidak memiliki cukup lahan untuk mengeringkan hasil panen seperti padi, jagung, kacang. Akibatnya, mereka menjemur hasil panen tersebut di jalan raya. Tentu saja apa yang mereka lakukan sangat mengganggu jalan. Kedua, ketiadaan halaman juga berdampak pada saat mereka menyelenggarakan hajatan seperti pesta pernikahan maupun sunatan. Karena tidak memiliki halaman maka mereka sering menutup jalan.

Perihal arsitektur masjid yang banyak direnovasi, jika dulu renovasi masih meninggalkan ciri tradisinya, sekarang ini ciri tradisi ini banyak hilang. Penyertaan ciri tradisi dalam bangunan masjid dengan menggabungkannya dengan arsitektur kekinian, atau arsitektur Timur Tengah itu menandakan bahwa kita masih memiliki kecerdasan budaya, kita masih memiliki kreativitas. Kita bisa hargai Masjid Agung Jawa Tengah yang meskipun dibangun di zaman modern namun tidak meninggalkan ciri tradisi dengan menampilkan tajug tumpang sebagaimana Masjid Agung Demak dan bentuk menara yang mengadopsi Masjid Menara Kudus.

Penyertaan ciri arsitektur tradisi ini penting agar Islam tidak berjarak dengan masyarakatnya. Sehingga Islam diterima sebagai bagian dari masyarakat. Patut kita sadari bahwa Islam hadir di Indonesia bukan dalam kekosongan budaya. Masih ada budaya di Indonesia yang perlu dihargai. Hal ini wajar dan juga terjadi di kebudayaan lain, bentuk masjid gaya mughal dari India juga gabungan antara gaya Hindu dengan gaya Arab. Sebagaimana diutarakan oleh Mundzirin Yusuf Elba dalam Mesjid Tradisional di Jawa (1983) bahwa arsitektur Masjid yang ada di Arab saat ini juga tidak sama dengan arsitektur masjid pada zaman nabi. Masjid sekarang lebih megah dan lebih besar.

Itulah alasan mengapa kita perlu menyertakan ciri tradisi dalam masjid-masjid yang kita renovasi maupun yang baru akan kita bangun. Yang penting adalah fungsi dan bagian-bagian masjid tetap utuh sebagai tempat sujud, sebagai pengembangan potensi umat. Kemampuan kita untuk mengolah pengaruh asing dalam kebudayaan kita dinamakan Local genius, atau cerlang budaya, atau kearifan lokal. Kemampuan itu sudah kita miliki sejak zaman dahulu kala. Ketika Hindu masuk ke Jawa, candi-candi yang berdiri di Jawa berbeda bentuknya dengan candi-candi yang ada di India, tempat agama ini berasal. Ada unsur-unsur lokal yang dipertahankan. Demikian pula saat Islam masuk, unsur lokal dalam membangun tempat ibadah tetap dipertahankan. Sebagaimana terlihat di Masjid Agung Demak dengan ciri tajug tumpang tiga atau atap tumpang. Ciri masjid semacam ini kemudian menjadi kekhasan masjid di Indonesia dan pulau Jawa pada khususnya.

Atap tumpang ada kaitannya dengan Meru, sebuah bangunan kegamaan pra Islam. Kemudian Hamka menafsirkan atap tumpang sebagaimana berikut ini: atap paling bawah melambangkan syariah, atasnya melambangkan thoriqoh, atasnya lagi melambangkan hakikat, dan atap paling puncak adalah makrifah.

Kita bandingkan pembagian ruangan pada masjid pada zaman dulu dengan masjid tradisi Jawa. Masjid Quba, masjid yang dibangun oleh Nabi di Madinah itu terdapat liwan, tempat untuk sholat. Riwak, mungkin sekarang seperti serambi. Ruangan terbuka yang disebut sahn yang di sini mungkin semacam pendapa, kemudian taman (haud), dan mihrab, tempat imam.

Pembagian ruangan dalam masjid tradisional sebenarnya tidak jauh berbeda, sedikit yang membedakan menurut Mundzirin adalah adanya Pawastren di kanan-kiri ruang utama sebagai tempat sholat perempuan, benteng untuk tempat pertahanan, kemudian kentongan dan bedug.

Perbedaan komposisi masjid adalah penyesuaian kondisi. Adanya benteng misalnya adalah karena mungkin kondisi pada waktu itu belum aman, adanya serambi karena selain masjid digunakan untuk sholat juga digunakan untuk bermusyawarah mufakat, belajar mengaji, bahkan pertunjukan wayang sebagai sarana dakwah, serambi digunakan untuk ketiga hal tersebut. Kentongan adalah untuk mengakomodasi agama lokal pada waktu itu. Menurut Agus Sunyoto, agama lokal orang Jawa adalah agama kapitayan, bedug adalah salah satu simbul peribadatannya. Namun oleh Islam dimaknai lain, bedug dan kentongan digunakan sebagai alat mengumpulkan umat yang mengartikan masjidnya masih sedeng atau muat dan masjidnya masih kosong. Mengakomodasi ciri lokal tanda kita punya kecerdasan budaya.

Muhajir Arrosyid – dosen Universitas PGRI Semarang, penggiat Komonitas Literasi Demak.

(Dimuat di Koran Wawasan, 23 November 2016).

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on November 23, 2016, in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: