Rette Mengingatkan Keris

Rutte Mengingatkan KerisDi istana, dengan latar belakang bunga dan bendera dua negara, sebilah keris diserahkan oleh Perdana Menteri Kerajaan Belanda, Mark Rutte kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (23/11). Keris itu adalah warisan budaya Indonesia yang di kembalikan kepada pemerintah Indonesia dan akan disusul 1500 artifek lainnya.

Tiba-tiba Rutte mengajak kita berpikir tentang keris (lagi). Apalah arti keris di tengah masyarakat Indonesia yang sedang menjadi generasi merunduk menyaksikan smartphone. Dengan smartphone itu kita bebas ngomong apa saja, mengutuk-ngutuk. Kita juga berani seenaknya mengumpat-ngumpat kepada orang tua ‘ndasmu’ hanya karena beda pendapat. 

Antara keris dan Belanda, kita akan mengingat sosok berjubah putih menunggang kuda. Patungnya berdiri di beberapa tampat di Kota Semarang. Dengan gagah sosok itu mengacungkan keris. Sosok itu bernama Diponegoro. Di banyak gambar sosok itu selalu menyelipkan keris di pinggangnya.

“Pedang di kanan, keris di kiri. Berselempang semangat yang tak bisa mati”. Kalimat tersebut adalah potongan sajak berjudul Dipo Negoro karya Chairil Anwar. Dan Keris pangeran yang ditangkap dengan cara dijebak itu bernama Keris Kiai Ageng Bondoyudo. Charil membahasakan kekagumannya kepada Diponegoro dalam berjuang. Melalui sajak ini Charil ingin mengajak kepada kita untuk memiliki semangat sebagaimana Diponegoro.

Teramat terhormat kedudukan keris bagi orang Jawa. Dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer diceritakan bahwa keris digunakan sebagai wakil seseorang untuk menikah. Dalam cerita itu seseorang yang diwakili dengan keris atas pernikahannya adalah seorang pembesar. Ia seorang Bupati. Pramoedya menceritakan seorang lelaki menikahi perempuan tidak harus datang langsung, ia cukup diwakili oleh sebilah keris.

Jika kita menyaksikan foto atau lukisan lelaki Jawa pada masa lampau, maka kita akan menyaksikan keris di pingangnya. Raffles dalam The History Of Java memasukkan keris dalam bab persenjataan. Dikatakan oleh Raffles, keris digunakan oleh berbagai kalangan, baik kalangan masyarakat bawah maupun tinggi. Keris memiliki banyak keragaman, dan keragaman itu lebih dari seratus jenis. Dilihat dari bentuk dan bahan keris menarasikan tentang status sosial.

Banyak yang menuduh, orang muslim yang memelihara keris dipertanyakan keislamannya. Karena percaya terhadap kekuatan yang bersumber selain Allah. Tetapi tuduhan musyrik itu dibantah oleh K.H. Alwi Sofwan dalam bukunya Percaya Keris tidak Musyrik.

Ingat keris ingat Jawa, ingat Jawa ingat keris. Keris menarasikan Jawa dari masa ke masa. Kita tentu ingat dengan Keris yang dibuat oleh Empu Gandring. Sebuah keris yang menjadi kutukan bagi Ken Arok, Raja Singosari. Keris ini digunakan oleh Ken Arok untuk membunuh sang empunya sendiri yaitu Empu Ganring. Sang Empu mengutuk, pada suatu saat Ken Arok akan terbunuh oleh keris tersebut, dan kutukan itu benar-benar terjadi.

Tidak hanya sampai di situ narasi tentang keris. Prabu Brawijawa, pendiri kerajaan Majapahit memiliki keris bernama kanjeng kiai nogososro ciptaan Empu Supamandrangi. Keris ini terkenal dengan kesaktiannya yaitu mampu menolak segala macam petaka.

Keris muncul dalam cerita-cerita pewayangan. Sebagaimana kita tahu, wayang adalah sumber pengetahuan dan rujukan hidup bagi manusia Jawa pada waktu itu. Dalam cerita wayang keris muncul dalam banyak cerita salah satunya adalah dalam cerita Baratayudha. Diceritakan saat Gatutkaca lahir, tali pusarnya tidak bisa diputus dengan pisau atau segala alat apapun. Kita menganal bahwa Gatutkaca adalah kesatria otot kayat balung wesi. Agar tali pusar Gatutkaca bisa putus, Arjuna sampai harus bertapa demi mendapatkan keris Kuntajayadanu. Arjuna hanya berhasil mendapatkan sarungnya, sedangkan kerisnya dibawa oleh Basukarno. Tali pusar itu bisa putus dengan menggunakan sarung keris Kuntajayadanu tersebut. Masih banyak cerita tentang keris. Segala kisah tragedi di Jawa diselesaikan dengan keris. Kisah rara Mendut juga ambil bagian, ketika Prana Citra, pacar Rara Mendut harus bertarung dengan Wiraguna. Prana Citra mati dengan sebilah keris, demikian juga Rara Mendut mengakhiri hidupnya dengan keris yang sama. Keris menyertai perjalanan Nusa Jawa.

Mengutip Remi Sylado dalam Perempuan Bernama Arjuna, javanologi dalam fiksi, membicarakan keris adalah membicarakan filsafat Jawa. Keris menurutnya sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu, sebelum datangnya Hindhu-Budha.

Rutte datang dan mengajak kita belajar tentang keris lagi. Mengapa yang diserahkan keris tidak artefak yang lain, mahkota raja misalnya? Hanya Rutte yang tahu. Kita hanya bisa menebak-nebak. Mungkin karena keris lebih bisa menceritakan tentang kita. Perlawanan, perjuangan, dan pengorbanan leluhur kita demi kebebasan Indonesia merdeka. Memberikan keris mengingatkan bahwa kita masih butuh berjuang, masih butuh semangat karena kerja kita belum selesai. Berbagai ancaman kesatuan mengintip, termasuk dari dalam sendiri. Terimakasih Rutte.

 

Muhajir Arrosyid – dosen Universitas PGRI Semarang, pegiat Komonitas Literasi Demak.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on November 26, 2016, in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: