MENGOBROLKAN SASTRA DAN KETIAK

Diskusi Himpunan Sarjana Kasusatraan Indonesia komisariat UPGRIS.

Diskusi Himpunan Sarjana Kasusatraan Indonesia komisariat UPGRIS.

Sastra bisa membicarakan masalah yang luas seperti negara, masyarakat sebagaimana bahasan yang diperdebatkan dalam ranah ilmu tata negara, sosiologi, tetapi juga bisa membicarakan masalah yang sangat dekat seperti tubuh sebagaimana biasa dibahas teman-teman ilmuan Biologi.

Siang itu pukul 11 di Chanadia Resto, jalan Erlangga Barat VII/14, Hiski (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia) Komisariat UPGRIS melakukan diskusi sastra bersama Pak Subur Laksono Wardoyo. Yang menjadi pokok bahasan adalah erotisme bau perempuan. Pak Subur membincang sebuah cerpen karya orang Pakistan yang mengangkat tema erotisme tubuh melaui bau. “Selama ini sastrawan banyak mengangkat erotisme dari sisi visual, jarang yang mengangkat dari sisi aroma atau bau.” Jelas Pak Subur.

Dalam penelitiannya Pak Subur merekontruksi karya sastra ke dalam dunia nyata dan kemudian memvisualkannya ke dalam bentuk foto. Misalnya saja untuk mendapatkan gambaran seorang perempuan yang berkeringat, tubuhnya tertempa angin, kemudian basah oleh hujan, Pak Subur melakukan pemotretan seorang perempuan yang loncat. Perempuan itu berkeringat dan tubuhnya basah. Erotisme perempuan melalui bau juga bisa diendus melalui ketiak. “Orang India berbeda dengan orang Barat, jika orang Barat ketiak dibuat bersih, maka perempuan India membiarkan rambut ketiaknya tumbuh.

Pak Subur juga menerangkan bahwa bau badan adalah jodoh. Seseorang terhadap orang lainnya jika berjodoh bau badannya maka mereka tidak akan punya masalah dengan bau badan itu. Bhakan bau badan bisa menjadi daya tarik satu sama lain. Selama ini terjadi komodifikasi bau dengan hadirnya produk berupa minyak wangi.

Diskusi siang itu melebar ke masalah-masalah yang tidak diduga. Misalnya Pak Nanda Gultom manusia jazz yang siang itu sempat berterompet mengingatkan bahwa setiap orang dengan asal dan ras yang berbeda memilki bau badan yang berbeda. “Seseorang di dayak sana akan tahu bahwa dalam satu kerumunan ada orang Jawa melalui bau tubuhnya. Bau itu tidak bisa diterangkan tetapi bisa diketahui. Sementara Pak Aniq menjelaskan tentang khasanah Jawa yang demikian detail untuk mengungkapkkan aroma atau bau, misal ada kecut, ledis, badeg, penguk, sedep dan lain sebagainya.

Bu Pipit bercerita tentang bau badan dan hubungan seksual suami-istri. “Perempuan”, katanya, “Jika pada saat-saat tertentu memiliki aroma yang kuat yang menarik gairah seksual kaum lelaki. Misalnya saja saat nifas. Padahal pada masa itu perempuan dilarang berhubungan badan oleh ajaran Islam.”

Bu Ambar bercerita tentang bau. Sebuah hubungan percintaan itu bisa dimulai dari endusan, tetapi juga harus pakai rasa. “Ora gobras-gabrus.”

Rata-rata yang hadir dalam obrolan kecil itu tidak mempermasalahkan bau badan pasangannya. “Istri saya tidak masalah dengan bau badan saya meskipun saya belum mandi. Katanya bau keringat saya segar.” Kata Pak Nur.

“Saya justru melarang istri saya memakai parfum saat dia (istri) di rumah. Karena parfum itu menganggu saya mencium aroma wangi alaminya.” Kata Setia Naka, sastrawan sekaligus dosen yang baru-baru ini mengeluarkan buku terbarunya berjudul Remang-Remang Kontemplasi ini.

Pak Bambang Sulanjari, dalang sekaligus dosen ini menerangkan tentang raja-raja dengan bau-bauan. Dalam serat-serat raja-raja tidak ada yang mempersolakan tentang bau-bauan pasangannya. “Wewangian, lulur itu tuntutan para leluhur. Para orang tua.” Tutur Pak Bambang.

Widyanuari Eko Putra, penulis buku Usai Membaca dan Menulis ini mengajak kita untuk masuk ke budaya populer; Aroma dalam budaya populer. Selain film berjudul Parfum sebagaimana diterangkan oleh Bu Nuning, pembahasan tentang aroma dalam sastra kita memang tidak banyak. Ada lagu berjudul Bau Ketek yang dipopulerkan oleh Project Pop. Setelah itu populer istilah burket. Dalam lagu itu bau ketek dikategorikan sebagai hal yang buruk dan dibuat celaan, belum sebagai erotisme. Lagu-lagu lain yang terkait dengan bau hanya dipermukaan saja. Misal syair: “Aroma tubuhmu mengingatkanmu.” Dan lain sebagainya.

Hadir juga Yunan dan Aklis. Yunan ngomong apa ya? Seingat saya esais muda Semarang ini bilang: “Saya jadi ingin segera menikah mendengar diskusi ini.”

Sedangkan aku. Oh aku juga ikut bicara sedikit. Bau keringat itu dalam kebudayaan kita sangat lekat. Misalnya seorang suami atau Bapak, jika dia bepergian jauh dia membawa baju anaknya yang masih bau keringat alias belum dicuci. Bau itu akan dicium jika sang Bapak kangen sama anaknya. Bau sebagai wakil kehadiran seseorang. Dalam khasanah bau selain tubuh adalah masakan. Sebuah warung untuk promosi dan menyiarkan keberadaannya dia setiap saat mengoreng gereh, bawang merah, dan terasi. Gereh, bawang merah, dan terasi ini digunakan untuk pemandu pelanggan menuju warung itu. Warung dengan stragegi promosi bau. (Teks oleh Muhajir Arrosyid, Foto oleh Widyanuari Eko Putra).

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 22, 2017, in Berita, buku harian, Memoar. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: