SEDANG MENULIS (RINDU) BISCUITTIME

Biscuittime, kelompok musik indie asal Semarang ini akan merilis album kedua di akhir tahun 2017 ini. Sekarang ini single terbaru mereka yang bertajuk ‘Sedang Meulis Rindu’ sudah bisa dinikmati di youtube di id youtube biscuittime. Pada satu Mei 2017, Muhajir Arrosyid reporter tunu.wordpress.com mewawancarai Deska Setia Perdana (ig: deskaperdana), Yongki Arya Permana (ig:yongkiaryapermana), dan Kadek Tia (ig:kadektia) terkait kreatifitas mereka. Ada hal yang berbeda seperti vokalis yang baru tetapi ada yang masih menempel pada diri Biscuittime yang menjadi kekhasan mereka. Hadirnya single sekaligus video klipnya ini sekaligus sebagai tanda bahwa mereka kembali lagi setelah vakum sekitar lima bulan dari belantika musik Indonesia. Berikut hasil wawancara yang dilaksakanakan pada petang di taman Universitas PGRI Semarang. Untuk terhubung dengan mereka bisa mengikuti alamat IG mereka: biscuittimeofficial. 

 

Apa perbedaan antara album yang sedang Anda siapkan dengan album pertama?

Deska: Di album pertama, Kramagung dulu dicari terlebih dahulu lima lagu baru dicari benang merahnya, dan di album kedua ini kita sudah petakan di awal, kita mau ngomong apa saja, tema besarnya apa atau topiknya. Kemudian dalam album baru ini secara musik perlagu kita mau ngapain itu sudah kita petakan walaupun belum kita utarakan di publik. Lagu ‘sedang menulis rindu’ adalah single pertama yang menjadi tanda kita kembali ke musik setekah ada dinamika pergantian vokalis. Ini pertama untuk ngenalin Kadek, kedua penanda kita balik, dan kita tulis ‘Sedang Menulis Rindu itu’ merupakan ungkapan kerinduan kami yang empat-lima bulan tidak muncul. Kita sekarang muncul lagi dengan karya baru walaupun secara aransemen masih ngikut di album pertama cuma kita poles dengan karakter suara Kadek dan tidak jauh-jauh dengan khas musik Biscuittime.

 

Jika dulu mengambil karya puisi milik teman, untuk yang Album ini masihkah begitu?

Deska: ini nanti ada, satu dua lagu melagukan puisi karya teman. Untuk lagu ‘Sedang menulis rindu’ liriknya aku yang bikin kemudian musik dan aransemen digarap bareng Yongki.

 

Perbedaan apa lagi dengan album yang pertama?

Yongki: Jelas berbeda karena dulukan antara aku, Deska, dan Icha selama tiga tahun telah mendengarkan lagu yang sama, jadi saling tahu selara musik masing-masing. Kalau yang ini PDKT (pendekatan) nya cuma sebentar sama vokalis baru. Maka beda banget dengan jenis vokal yang baru tentu dengan lagu yang baru juga berbeda.

 

Kalau kemarin seperti kumpulan cerpen itu tidak dikonsep di awal tetapi kalau ini sudah direncanakan. Perencanaannya itu seperti apa misalnya?

Deska: Perencanaannya serentak sih. Waktu kita kumpul, saat ketemu Kadek kita sudah bikin rencana mendengarkan suara Kadek antara seminggu dua minggu. Sebelum kita ajak gabungpun kita dengarkan di akun media sosialnya. Saat dia nyanyi, kita berpikir ‘Oh ini masuk nih. Secara musik kita melakukan workshop terlebih dahulu. Di akhir pekan kita kumpul untuk menentukan musik yang memungkinkan kita garap. Secara tema, kita mau ngomongin satu tema besar dan lagu-lagunya ada benang merahnya. Kalau di album pertama kebalik, kita kumpulkan lagu baru dicari benang merahnya.

 

Tema besarnya apa?

Deska: Tema besarnya rindu, pulang, sesuatu yang berjarak. Sesuatu yang berjarak itu bikin kadang mau pulang, kadang tidak mau pulang, kadang tidak mau pulang dengan alasan tertentu, kadang ingin pulang karena rindu.

 

Apakah ini karena anak-anak perantauan, jadi mengambil tema rindu, pulang, dan sesuatu yang berjarak? Pulang itukan macam-macam, rindu juga demikian. Tema tersebut sudah ditulis oleh musisi-musisi sebelumnya. Apa yang membedakannya? Konteks kangen yang seperti apa?

Deska: kangennya misalnya, kangan terhadap diri sendiri pun bisa. Rindu dengan diri sendiri. Rindu dengan sifat orang lain yang berubah. Rindu dengan yang dulu bukan orangnya tetapi sifatnya. Atau alam kita yang dulu kita rasakan bagus sekarang tidak bagus lagi. Sedang menulis rindu sebenarnya seperti plesetan saja. Kalau kita sedang berkomunikasi melalui BBM atau WA dan menunggu yang kita ajak chatt sedang menulis, maka akan muncul “Sedang menulis…..” Lha titik-titik itu kita ganti dengan kata rindu.

 

Kemudian frame di dalam video klip ‘Sedang Menulis Rindu’ itu diterjemahkan dalam bentuk surat dengan mengambil setting waktu era 90-an. Di dalam video klip muncul ornamen kristik, cangkir, guci-guci, kursi, hingga pakaian yang dikenakan oleh pemeran dalam video itu bernuansa 80-90-an.

 

Mengapa mengambil era itu?

Deska: Nuansa musik juga mengambil era 80-90-an.

 

Apakah karena akan bicara tentang jarak itu ya? Jarak memang tidak hanya tempat tetapi juga waktu.

Deska: Karena kalau ngomong tentang rindu yang kekinian terlalu gampang untuk bertemu dengan teknologi dan transportasi yang cepat.

 

Apa mungkin secara musikal rindu dengan masa-masa itu?

Yongki: Mungkin sukanya era-era saat itu. Yang cocok dengan skill kemampuan, ciri Deska dan aku cocoknya musik di era-era tersebut. Yang enak diengar dan tidak jlimet.

 

Target menjadi album kapan?

Deska: Insyaah akhir tahun. Nanti ada yang kita rencanakan enam lagu baru dan satu lagu recycle dari album pertama. Dan ada puisi juga.

 

Dibaca dalam bentuk puisi?

Deska: puisi dilagukan. Untuk Album ini baru mendapatkan satu puisi yang cocok dengan tema yang telah kita petakan. Dan puisinya tingkat kesulitannya bisa kita kerjakan secara musiknya, ada puisi-pusinya yang sangat susah dikerjakan musiknya misalnya kerena bait-baitnya panjang. Puisinya yang kita kerjakan adalah karya teman-teman dengan karena lebih mudah mendapat izinnya. Kalau orang-orang terkenal seperti Sapardi itu susah izinnya.

 

Mengangkat puisi teman menjadi lagu akan saling mengkat sesama seniman Semarang. Bagaimana Kadek, tantangannya bagaimana ketemu teman-teman ini?

Kadek: Pertama-tama sebenarnya saya minder dengan suaranya Mbak Icha (vokalis sebelumnya), suaranya bagus sih. Kalau saya besic-nya suarnaya alto, kan gede. Cocoknya kalau nyanyi yang agak yang swing-swing gitu. Awalnya sempet bingung, aku harus jadi kayak Mbak Icha apa bagaimana ya? Kemudian aku berkeputusan untuk menunjukkan karakter suaraku sendiri.

 

Tantangan yang lain?

Deska, Yongki: regenerasi

Kadek: Mereka itu memang lebih suka musik-musik yang zaman-dulu-zaman dulu. Kalau aku sukannya ya zaman-zaman sekarang. Kadang mau nyanyiin yang seperti ini, mereka sukanya seperti ini.

 

Deska: Kan sudah ada blue print musik Biscuittime dan sekarang ada sesuatu yang baru yaitu suaranya Kadek dan itu menambah perbendaharaan aransemen juga. Tidak menutup kemungkinankan di setiap album berbeda musik beda iramanya. Kalau yang album pertama kekuannya di overtune, nuasanya senafas.

 

Nama album kedua sudah ada?

Album kedua sudah. Judul album kedua masih rahasia. Seperti album pertama menggunakan satu kata.

 

Kalau sambutan teman-teman kata Semarang bagaimana terhadap biscuittime?

Kadek; Kalau teman-teman kuliahku sih excited banget yah. “Wah kamu masuk Biscuittime ya?  Ngeri-ngri”. Awalnyakan aku dari paduan suara dikirain akukan tidak bisa nyanyi yang single gitukan. Dulu besic-nya aku sering nyanyi single juga. Yang kaget teman-teman kampus sih. Kalau teman-teman yang SMA gitu ya emang udah tahu aku pernah nyanyi single juga, solo.

 

Kalau sambutan teman-temanmu tentang lagumu yang ini bangaimmana (Sedang menulis rindu)?

Kadek: Temenku? Bilangnya bagus sih.

 

Ada jarak tidak? Jarak estetika. Selera orang terhadap musik sekarang begini terus kemudian dihadapkan pada musik kalian? Pernah ada yang komentar, misalnya musikmu terlalu tua?

Kadek: tidak pernah, mereka menerima dengan baik-baik saja.

 

Deska: kalau sesama musisi di Semarang yang saya kenal, kita sudah semakin dewasa dan makin respect satu sama lain. Dalam artian kita beda aliran yang rock banget, yang punk, tapi sama Biscuittime yang asyik-asyik aja. Begitupun aku menghadapi permainan mereka. Kami saling menghormati, mereka bilang “Ya udah itukan caramu main gitar, caramu main musik. Jadi kalau masalah segmen dan menghadirkan musik di zaman tertentu, zaman memang muter. Tapi untuk ke techno kita tidak mungkin karena konsep kita dua gitar akustik. Tidak mungkin ke arah techno.

 

Yakin gak sih Semarang menumbuhkan musisi? Selama inikan kota yang dianggap melahirkan musisi-musisi papan atas seperti Bandung, Yogja, Surabaya, bagaimana apakah Semarang berpotensi menyusul?

Yongki: kalau menghasilkan musisi pasti, Cuma selanjutnya mau tidak musisi itu keluar ke jangkauan yang lebih luas. Menembus luar kota. Mereka mampu tidak nanti menghadapi suasana di luar kota itu. Mereka akan tahan tidak. Jika mereka tahan ya pasti bisa menjadi musisi yang diterima di kalangan yang lebih luas keluar batas-batas Semarang.

 

Yang saya amati sebagai penikmat terhadap musik Semarang, beberapa band muncul sebentar kemudian menghilang.

Deska: Kita ya gitu, kami kira setelah album pertama selesai lalu mati, Cuma tidak jadi (sambil tertawa). Banyak halangannya, ada saja penyakitnya. Di album pertama alhamdullilah sangat sukses karena album tersebut dalam satu bulan CD nya habis. Pencapaianpun itu di luar ekspektasi kami. Kalau ditanya kalau mau mendapatkan CD nya kemana sudah tidak ada, dan jika mau menikmati silakan dinikmati melaui gerai lagu online.

 

Bergugurannya band-band di kota ini dan tidak sampai naik menurutmu apa sebabnya?

Yongki: Kesempatan mungkin mempengaruhi. Kesempatan untuk keluar kota. Kalau indiekan susahnya di situ. Permainan pemasaran juga yang mungkin masih agak kurang di Semarang.

 

Semaraknya media sosial ini menurutmu membantu tidak?

Deska: membantu secara viral. Spotify itu internasional, kalau kita sudah unggah lagu di situ berarti sudah bisa dinikmati tidak hanya nasional tetapi internasional. Cuma kesempatan menjadi viral itukan ada beberapa faktor seperti dia sering manggung, dia dibuyer oleh manajemen tertentu, dan itu kita tidak dapat secara  professional karena kita tidak ada menajer dan buyer. Kita hanya bertiga, ya dari temen-temen suka membagikan. Jadi sebuah komonitas dalam musik indie ini sangat mendukung. Kita mengerjakan puisinya temen, teman itukan suka. Ada kayak saling mengakat satu sama lain.

 

Inikan temanya rindu. Apasih kerinduan yang paling dramatis yang pernah kamu alami?

Kadek: menurutku itu rindu itu adalah sesuatu yang kadang bikin kita melakukan hal koyol. Kalau sudah rindu begitu sejauh-jauhnya orang diampirin. Aku rindu tidak melulu tentang percintaan, tentang pacar. Aku seringkali merasakan rindu sama alam. Akukan sekarang tinggalnya di Semrang, kampungkukan di Bali. Saat jalan-jalan di daerah-daerah pegunungan, mencium aroma tanah basah, kabut bisa membuatku rindu dengan kampung halaman yang ada di Bali.

 

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 18, 2017, in Berita, Musik, Resensi, Tokoh Kita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: