BERZIARAH KE MAKAM PAK SULISTIYO

Di dalam mobil setelah keluar dari bandara Pak Lis mengangkat telpun dari Ibunya. Percakapan usai, telpun ditutup. Kemudain beliau bilang. “Sampai sekarang, sebelum dan setelah saya naik pesawat ibu selalu telpun menanyakan apakah penerbangan berjalan lancar.”

Kata Pak Lis, selama dia berada di pesawat ibunya berdo’a untuk keselamatannya.

Persitiwa yang aku gambarkan di atas terjadi di masa lalu, lalu sekali sebelum Pak Lis (Sulistiyo) meninggal dunia. Kemarin, (13/7) aku bersama teman-teman dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPGRIS berkunjung ke rumah orang tua Pak Lis dan berziarah ke makam beliau. Sebelumnya menghadiri acara resepsi pernikahan Bu Rawinda, teman kami tercinta di Wonosobo. Pada kesempatan itulah aku bertemu dengan ibu yang sangat menyayangi Pak Lis. Saya sangat yakin, sosok yang hebat lahir dari ibu yang hebat pula.

Rasanya aku perlu menceritakan jalan menuju rumah Pak Lis, rumah itu berada di pegunungan, jalannya tidak lebar, naik turun sehingga membuat hati kami yang di dalam bus menjadi dag dig dug tak karuan saat kita harus naik kemudian belok. Di alam semacam itulah Pak Lis lahir, tumbuh, dan mengenyam pendidikan.

            Kami disambut oleh orangtua Pak Lis, kakak, dan adik beliau. Aku mencium tangan Bapak dan Ibu beliau, tangan dari orang yang hebat itu. Di meja sudah tersaji berbagai hidangan. Ada tempe kemul masih hangat, ada kacang rebus, dan kentang hitam. Memang, di antara banyak hal yang menjadi fokus perhatianku adalah ibu, ibunya pak Lis. Beliau duduk tenang. Sudah tua, kulitnya sudah keriput tetapi masih sehat. Kesedihan masih tersisa, kenangan terhadap anak kesangannya itu tertempel di dinding-dinding ruang tamu melalui foto-foto Pak Lis.

Tetapi kepada kami beliau memperlihatkan keramahan dan kasih sayang. Menceritakan perihal masa kecil Pak Lis, yang katanya semangat belajar, maktu sekolah SMP dan SPG menempuh jalan yang jauh, berbatu, tanpa sepatu, melewati sungai. Waktu kecil, sungai dekat rumah itu belum ada jembatannya, sehingga kalau sungai tinggi anak-anak tidak bisa sekolah.

Apalah artinya anak yang bersemangat tanpa ibu bapak yang mendukung. apalah keinginan orang tua tanpa anak yang semangat. Semua harus padu, dari suasana itulah pak Lis dibentuk. Dua orangtua yang ada di hadapanku ini adalah orang tua yang punya visi jauh. Di kampung begini, sepi, tidak banyak orang tua yang mau menyekolahkan anaknya sampai ke kota, Semarang waktu itu.

Ngobrol secukupnya selesai. kami jalan kaki menuju Makam Seorang pejuang nasib guru Indonesia itu, Ketua Umum PB PGRI, anggota DPD RI. Melewati kebun yang ditumbuhi pohon-pohon jati. Makam sederhana, seperti sosok beliau yang juga sederhana, meskipun yang telah ia perbuat untuk negeri ini tidak sederhana. Makamnya tidak berdinding, beratap memang, tapi cuma atap seng bertiang bambu. Nisan juga hanya sebuah kayu kecil belaka.

Di atas makam beliau kami berdoa. Pak Arisul memimpin. Kunjungan sejenak dan sangat berkesan. Aku berharap akan kembali lagi ke sini untuk berziarah. dan semoga Allah menghendaki, entah dari mana pintunya, jalan menuju makam akan lebih baik, dan makam juga lebih baik mengingat apa yang telah beliau lakukan kepada kita teramat besar. Bukan, bukan beliau yang menghendaki, aku yang hanya berdo’a semoga Allah mengabulkan.

           Kami kembali ke rumah orangtua Pak Lis. Dan embah putri, ibunya Pak Lis mempersilahkan masuk dan menyuruh makan. Duh, sebenarnya hati kami segan. Datang kok malah ngerepoti. Tapi bagaimana lagi, hidangan sudah disajikan, tidak baik membiarkannya. Ada pete, sambal erek, daun singkong yang direbus, dan ayam goreng. Mantap.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 14, 2017, in buku harian, Jalan-jalan, Memoar. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: