Kunci dan Tembok

Kunci dan gembokTadi malam aku berjanji kepada Bening, pagi ini rencananya kami akan jelan-jalan menemui para binatang dan tetumbuan di alam bebes. Sudah agak lama hari liburku tidak aku berikan kepadanya. Tapi sungguh malang, saat berusaha membuka pintu, gembok tidak bisa dibuka kunci tidak dapat melakukan fungsi sebagaimana mestinya. Untuk ke luar rumah kami bisa lewat pintu samping, tetapi untuk keluar kendaraan kami harus lewat pintu depan yang pagi itu terkunci. Jalan-jalan pagi itu diurungkan. Liburan dilaksanakan di rumah saja.

Aku tidak bisa membuka pintu itu untuk membeli suku cadang sebelum toko-toko bangunan buka. Aku ambil peralatan sederhana seperti palu, tanggem, drei. Aku niatkan menyelesaikan pekerjaan ini sendiri tanpa bantuan tukang. Permasalahan kunci dan gembok di pintu depan bukan kali ini saja. Sudah berkali-kali terjadi mungkin karena cuaca yang berganti-ganti membuat kunci cepat rusak. Pada kerusakan-kerusakan sebelumnya aku selalu memanggil tukang untuk memperbaiki tapi kali ini tidak, aku ingin menyelesaikannya sendiri. Aku ingin beralih dari manusia teori ke manusia praktik. Bertahun-tahun aku berkecimpung dengan buku-buku, membacanya setiap waktu, bergumul dengan konsep-konsep, gagasan tetapi hancur lebur jika harus menghadapi kejadian praktis sehari-hari sekedar memperbaiki kunci yang rusak.

Kunci itu tidak bisa membuka pintu, ia menempel pada daun pintu dan tak mau diambil. Jalan yang mungkin bisa dilakukan adalah membongkar perangkat itu dengan palu kemudian menggantikannya dengan yang baru. hal itu aku lakukan dan berhasil ternyata tidak sesusah yang aku bayangkan. Sedikit-sedikit aku beranjak dari manusia konsep ke manusia praktik. Aku mulai belajar memasak, mengoprasikan mesin cuci, mengepel, pekerjaan-pekerjaan yang bisanya dilakukan oleh istri.

Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dari peristiwa itu. Pengetahuan itu penting dan sangat penting. Cara orang mendapatkan pengetahuan juga macam-macam. Ada orang yang mendapatkan pengetahuan dengan jalan membaca buku-buku kemudian dipraktikkan, diuji kebenaran isi buku itu, ada tipe orang yang melakukan dulu, mengalami terlebih dahulu, mencoba dan mencoba baru dia mendapatkan pengetahun berdasarkan pengalaman. Aku kira tidak perlu ditegaskan mana yang lebih baik. Setiap orang berbeda sehingga mimiliki cara yang berbeda pula untuk mendapatkan ilmu. Orang yang mendapatkan ilmu dari pengalaman ada yang kemudian mencatatnya untuk dipelajari di kemudian hari. Ilmu yang tertulis itu dipelajari sebagai pijakan untuk melangkah tetapi tidak boleh diyakini mutlak sebagai petunjuk karena keadaan yang pasti sudah berubah tantangannya tentu saja berubah pula.

Yang perlu diwaspadai terhadap diri kita adalah jangan sampai keasyikan mempelajari konsep, teori dan tidak beranjak kemana-mana, pengetahuan hanya berdiam di kepala tidak turun ke hati apalagi pada langkah. Jenis orang semacam ini berbeda antara gerak otaknya dengan hati dan perilakunya.

Akal itu untuk mengukur salah benar, hati itu untuk menimbang rasa, enak dan tidak enak, tepaslira, toleransi, ewuh pakewuh. Jika hanya berdasarkan otak kita hanya akan berebut kebenaran. Kita merasa yang paling benar, sebagian orang berkeyakinan yang paling benar adalah orang yang mendapatkan ilmu dari buku, memulainya dari mengetahui teori karena belajar tanpa konsep yang kuat akan tersesat dan menghabiskan waktu. Orang yang lain berkeyakinan bahwa belajar teori dulu itu menghabis-habiskan waktu. Bawa jugalah hatimu unutk mengambil keputusan dan menyertai pendapatmu.

Ilmu lain dari peristiwa kunci dan gembok ini adalah perlunya kita merawat kunci agar terjaga fungsinya. Kita perlu memegang kunci-kunci agar kita bisa masuk ke ruang-ruang yang kita inginkan. Jika kita sudah di dalam maka kita juga bisa keluar dengan kunci itu jika kita memerlukannya.

Sebuah lagu mengatakan “mimpi adalah kunci” bagi kita yang ingin masuk ke masa depan yang luas dan penuh misteri. Kita perlu meiliki mimpi atau harapan untuk menjejakkan langkah ke masa depan. Ada juga sebuah syair yang mengatakan “miftahul jannah Laillaha Illaallah” kunci surga adalah tauhid mengakui keesaan Allah dan meneladani Muhammad. Tetapi bukan lantas menganggap surgu sebagai tujuan.

 

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 22, 2017, in HIKMAH, Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: