Category Archives: buku harian

BERZIARAH KE MAKAM PAK SULISTIYO

Di dalam mobil setelah keluar dari bandara Pak Lis mengangkat telpun dari Ibunya. Percakapan usai, telpun ditutup. Kemudain beliau bilang. “Sampai sekarang, sebelum dan setelah saya naik pesawat ibu selalu telpun menanyakan apakah penerbangan berjalan lancar.”

Kata Pak Lis, selama dia berada di pesawat ibunya berdo’a untuk keselamatannya.

Persitiwa yang aku gambarkan di atas terjadi di masa lalu, lalu sekali sebelum Pak Lis (Sulistiyo) meninggal dunia. Kemarin, (13/7) aku bersama teman-teman dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPGRIS berkunjung ke rumah orang tua Pak Lis dan berziarah ke makam beliau. Sebelumnya menghadiri acara resepsi pernikahan Bu Rawinda, teman kami tercinta di Wonosobo. Pada kesempatan itulah aku bertemu dengan ibu yang sangat menyayangi Pak Lis. Saya sangat yakin, sosok yang hebat lahir dari ibu yang hebat pula.

Rasanya aku perlu menceritakan jalan menuju rumah Pak Lis, rumah itu berada di pegunungan, jalannya tidak lebar, naik turun sehingga membuat hati kami yang di dalam bus menjadi dag dig dug tak karuan saat kita harus naik kemudian belok. Di alam semacam itulah Pak Lis lahir, tumbuh, dan mengenyam pendidikan. Read the rest of this entry

Iklan

MENGOBROLKAN SASTRA DAN KETIAK

Diskusi Himpunan Sarjana Kasusatraan Indonesia komisariat UPGRIS.

Diskusi Himpunan Sarjana Kasusatraan Indonesia komisariat UPGRIS.

Sastra bisa membicarakan masalah yang luas seperti negara, masyarakat sebagaimana bahasan yang diperdebatkan dalam ranah ilmu tata negara, sosiologi, tetapi juga bisa membicarakan masalah yang sangat dekat seperti tubuh sebagaimana biasa dibahas teman-teman ilmuan Biologi.

Siang itu pukul 11 di Chanadia Resto, jalan Erlangga Barat VII/14, Hiski (Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia) Komisariat UPGRIS melakukan diskusi sastra bersama Pak Subur Laksono Wardoyo. Yang menjadi pokok bahasan adalah erotisme bau perempuan. Pak Subur membincang sebuah cerpen karya orang Pakistan yang mengangkat tema erotisme tubuh melaui bau. “Selama ini sastrawan banyak mengangkat erotisme dari sisi visual, jarang yang mengangkat dari sisi aroma atau bau.” Jelas Pak Subur.

Dalam penelitiannya Pak Subur merekontruksi karya sastra ke dalam dunia nyata dan kemudian memvisualkannya ke dalam bentuk foto. Misalnya saja untuk mendapatkan gambaran seorang perempuan yang berkeringat, tubuhnya tertempa angin, kemudian basah oleh hujan, Pak Subur melakukan pemotretan seorang perempuan yang loncat. Perempuan itu berkeringat dan tubuhnya basah. Erotisme perempuan melalui bau juga bisa diendus melalui ketiak. “Orang India berbeda dengan orang Barat, jika orang Barat ketiak dibuat bersih, maka perempuan India membiarkan rambut ketiaknya tumbuh. Read the rest of this entry