Category Archives: Opini

KAMPUS DAN DANGDUT

Sebut saja namanya Tunu. Tahun 2000-an ia membeli kaset pita  Laksmana Raja di laut yang dilantunkan Iyet Bustami. Ia seperti anak culun di kelas. Ia ditertawakan. Selera musik yang aneh menurut teman-temannya. Teman-temannya mengidolakan Padi dengan lagu hitnya Semua Tak Sama atau Dewa dengan lagu hitnya Arjuna Mencari Cinta. Tapi sekarang, saat ia menjadi dosen, ia mendengar para mahasiswanya akrab dengan lagu berjudul Sayang, Bojoku Galak, Ditinggal Rabi, Suket Teki yang dipopulerkan oleh penyanyi-penyayi panggung semacam Via Valen, Nella Kharisma.

Kampus adalah tempat berkumpulnya kawula muda. Mereka punya selera musik, pakian, bahkan logat bicara yang mencerminkan anak muda. Mereka adalah representasi zaman kekinian. Sedangkan dangdut adalah musik rakyat, diundang di acara-acara hajatan perkawinan, dijogetkan dengan saweran di panggung sedekah bumi. Mungkinkah kedua hal yang (seolah) bertolak belakang ini saling menyapa? Read the rest of this entry

Iklan

PARI LAN SUKET TEKI

Apakah kamu pernah mananam kepercayaan kepada seseorang? Misalnya kamu percaya sama dia dan dia percaya sama kamu untuk bersama menjaga janji pada suatu saat nanti melangsungkan ke jenjang yang lebih serius tapi di tengah jalan dia ingkar janji. Padahal sudah banyak hal yang kamu korbankan, paling tidak perasaan. Kado sudah kamu kirimkan, tidak cuma bunga tetapi juga handphone. Kamu sudah rela bangun pagi untuk jadi tukang ojek, mending tukang ojek dapat banyaran, lha kamu?

Kondisi seperti ini oleh Dedi Kempot disebut “Tandur pari jebul tukule malah suket teki” dalam lagu “Suket Teki”. Tandur atau menanam adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh petani tentu saja yang diharapkan panen. Hal ini ada kaitannya dengan pangan hal primer dalam hidup manusia. Jika harga pangan naik maka semua bisa kalang kabut, pemerintahan bisa terguling gara-gara pangan ini. Untuk itu Suharto menggalakkan swa sembada pangan. Majalah, koran, dan TV pada masa itu sering menunjukkan dirinya memanen padi di tengah sawah. Ada program yang cukup poluler pada masa itu, namanya klompecapir, dialog antara maasyarakat petani dengan presiden yang disiarkan di TVRI. Read the rest of this entry