KEJERNIHAN HATI MENGIQRO’ NEGERI

Reportase Suluk Maleman 16 Sepember 2017 (Foto oleh Rozak)

Kemampuan membaca (iqra) sangat dibutuhkan oleh sebuah negeri, pembacaan yang keliru akan menghasilkan penyelesaian yang keliru pula. Akibatnya kita berhenti di jalan, jangankan maju malah seringkali mundur ke belakang. Kencenderungan inilah yang dibaca oleh Majlis ilmu Suluk Maleman, hingga pada Sabtu (16/9) mengangkat tema “Iqra Negeri”. Tentu saja membaca tidak hanya sekedar membaca tetapi juga menganalisa.

Habib Anis Sholeh Baasyin memperkenalkan perangkat membaca. Katanya, seseorang harus memiliki hati yang bersih untuk mampu membaca dengan jernih. Kejernihan membaca ini sangat penting mengingat banyak sekali tipu daya yang mengelabuhi mata hati kita. Habib Anis mencontohkan bagaimana caranya melihat tentang daun yang berwarna hijau. Pertama karena kemampuan mata kita menangkap benda itu, kedua karena memang ada unsur hijau dalam daun tersebut, dan ketiga karena ada cahaya yang menerangi daun itu sehingga kita mampu melihatnya. Read the rest of this entry

Iklan

PARI LAN SUKET TEKI

Apakah kamu pernah mananam kepercayaan kepada seseorang? Misalnya kamu percaya sama dia dan dia percaya sama kamu untuk bersama menjaga janji pada suatu saat nanti melangsungkan ke jenjang yang lebih serius tapi di tengah jalan dia ingkar janji. Padahal sudah banyak hal yang kamu korbankan, paling tidak perasaan. Kado sudah kamu kirimkan, tidak cuma bunga tetapi juga handphone. Kamu sudah rela bangun pagi untuk jadi tukang ojek, mending tukang ojek dapat banyaran, lha kamu?

Kondisi seperti ini oleh Dedi Kempot disebut “Tandur pari jebul tukule malah suket teki” dalam lagu “Suket Teki”. Tandur atau menanam adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh petani tentu saja yang diharapkan panen. Hal ini ada kaitannya dengan pangan hal primer dalam hidup manusia. Jika harga pangan naik maka semua bisa kalang kabut, pemerintahan bisa terguling gara-gara pangan ini. Untuk itu Suharto menggalakkan swa sembada pangan. Majalah, koran, dan TV pada masa itu sering menunjukkan dirinya memanen padi di tengah sawah. Ada program yang cukup poluler pada masa itu, namanya klompecapir, dialog antara maasyarakat petani dengan presiden yang disiarkan di TVRI. Read the rest of this entry