Arsip Blog

Cerpen: MALAM GERIMIS SEEKOR ANJING MENYERET KAKINYA

malam-gerimisSaudara seanjingnya banyak yang berakhir di lidah Markham. Mereka digorok kemudian dipanggang, disantap malam-malam sambil bermain gaple sebagai teman minum ciu. Maka ketika ia mencium keringat manusia, ia segera bersembunyi. Jika itu Markham dan teman-temannya, bisa habis riwayatnya.

Malam gerimis. anjing menyeret satu kakinya yang terluka. Matanya melotot menahan sakit. Kolong jembatan, tempat tinggalnya masih jauh. Ia menjatuhkan daging yang ia curi. Pelan-pelan ia habiskan daging ayam yang gurih.

Anjing kurap itu melanjutkan perjalanan. Jika kakinya normal, sambil berlari, Kurap hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai di kolong jembatan. Karena kakinya pincang, perlu waktu 30 menit untuk sampai ke sana. Sebentar-sebentar Kurap istirahat. Kurap mengumpat jika luka di kakinya ngilu: Dasar Saripah gila, pelit sekali manusia itu, rakus.

Saat ia lewat di sebuah rumah yang depannya terdapat patung singa, seekor anjing besar menyalak. Itu bukan salakan persahabatan. Itu adalah salakan usiran dan ajakan berkelahi. Mendengar itu Kurap berhenti sambil menggerak-gerakkan ekor. Si anjing yang ia ketahui bernama Surya mengerang. Surya menyalak lebih keras dan mondar-mandir. Kurap menatap mata Surya, Surya tidak bisa berbuat banyak karena terkurung oleh pagar rumah. Pagar adalah pagar, meski terbuat dari emas sekalipun, membatasi.

Kurap lebih bahagia menjadi anjing bebas. Menjadi anjing peliharaan seperti Surya memang makannya terjamin, dielus-elus setiap hari tetapi tidak merdeka. Dunianya sebatas pagar rumah. Mending seperti dirinya, hidup bebas, bisa kemana saja sesuka hati, meskipun untuk sekedar makan kadang mempertaruhkan nyawa, tetapi itulah tantangan seekor anjing. Bagi dia, menjadi anjing peliharaan itu kurang anjing. Read the rest of this entry

Iklan

Kemarin Istana Memang terbakar (Catatan ‘Cerita Ababil’ A.S. Laksana)

AbabilCatatan Cerpen Minggu 28 Juli 2013. Semoga waktumu adalah keselamatan. Kapanpun tulisan ini sampai pada matamu, entah pagi, siang, atau malam. Sudah hari Sanin teman. Saat yang tepat untuk mengulas cerita-cerita pendek yang terbit di koran-koran Minggu. Aku merasa harus segera menuliskannya, membagikannya melalui blog karena kau sudah menunggu-nunggu. Oh kau tidak menunggunya ya? Berarti memang benar kata temanku, aku adalah orang yang gampang GR atau gede rumongso (besar perasaan).

Cerpen pertama yang mampir di mataku (28 Juli) adalah cerita karya A.S. Laksana yang dimuat Jawa Pos yang berjudul Cerita Ababil. Membaca cerita ini perasaanku menjadi nano-nano. Kau ingatkan dengan premen nano-nano? Premen yang menawarkan rasa campur aduk. Di tengah kernyitan dahi saat membacanya sesekali aku juga memekik tawa. Cerita ini dibangun dari hal-hal sepele tapi dalam keseriusan. Mulai dari pertunjukan sulab yang dilihat di pasar, hingga rasa penasaran khas anak-anak terhadap sulab hingga membeli buku-buku sulab dan buku tenaga dalam yang banyak dijajakan. Bertahun-tahun buku-buku itu dipelajari dan dipraktikkan tapi selalu gagal. Mereka ingin dapat mempraktikkan membakar kertas menggunakan ludah seperti adegan yang mereka saksikan oleh tukang sulab di pasar. Sampai kemudian ditemukanlah buku Seribu Satu Keajaiban Metafisik. Dari buku itu kemajuan ilmunya semakin meningkat.

Dari masalah sepele khas anak-anak yang terbawa sampai dewasa berlanjut ke masalah yang lebih serius yaitu menggulingkan kekuasaan. Dalam bahasa mereka adalah berjuang untuk menegakkan kebenaran, namun dalam bahasa penguasa adalah perusuh atau penebar ketakutan. Penggalan dalam cerpen itu:“Ada tukang sihir yang berniat mencelakaiku namun Tuhan selalu melindungiku.” Kata seorang presiden. Membaca pernyataan ini saya jadi teringat pernyataan serupa yang diucapkan seorang presiden yang merasa dalam ancaman.

Ancaman mulai dirancang lebih serius setelah kegagalan serangan pertama. Ia mengumpulkan anak-anak yatim piatu, anak-anak gelandangan, anak-anak yang dibuang oleh orang tuanya sejak bayi. Mereka dijadikan anak asuh untuk setiap hari melafal mantra-matra. “Orang yang setiap hari melafal mantra pasti akan dapat membakar kertas dengan ludahnya.” Ia juga mengumpulkan masalah-masalah, dan mendaftar orang-orang yang korupsi untuk menjadi target ludah. “Inilah caranya untuk membersihkan negeri” katanya. Read the rest of this entry