Arsip Blog

MENULIS SEASYIK NGOMONG

Menulis dengan Emosi dan Mengunyah Rindu

Menulis dengan Emosi dan Mengunyah Rindu

Mungkinkah menulis seperti ngomong? Kan asyik tuh. Kita biasanya mampu berbicara, curhat sama teman kita di kamar sampai menjelang pagi. Kalau bisa menulis seasyik ngobrol kan asyik, tahu-tahu dapat berlembar-lembar tulisan. Seringkali kita punya ide seabrek begitu menyalakan komputer hilang semua deh isi kepala. Menguap entah kemana.

Menulis seperti ngobrol, tentu saja mungkin. Buktunya banyak penulis-penulis yang setiap hari mampu menghasilkan berlembar-lembar tulisan. Beberapa tips bisa dicoba. Pertama, menata perasaan. Saat kita menulis jangan membayangkan kita berdiri di depan khalayak luas dan kita berbicara di depan mereka. Itu pasti berat sekali. Hanya dua tiga kalimat, tulisan sudah mampet.

Saat menulis bayangkan saja kamu berbicara dengan orang yang paling dekat, yang nyaman diajak curhat. Kamu seperti membuat surat yang ditujukan kepada sahabat dekatmu itu. Dengan cara begitu mungkin kamu bisa nyaman nulis dan rileks. Rileks dalam menulis itu penting sekali. Dengan cara itu mungkin bisa membantumu. Read the rest of this entry

Iklan

MENULIS DIALOG DALAM FIKSI

MENULIS DIALOGDialog merupakan bagian penting untuk menjaga pembaca untuk tetap membaca cerita kita. Dengan dialog maka pembaca seolah-olah terlibat dalam cerita yang sedang mereka baca. Maka dari itu kalau Anda ingin menjadi penulis fiksi yang baik maka Anda harus belajar menulis dialog. Berikut ini adalah cara menulis dialog yang dibagi menjadi beberapa bagian. Kali ini kita bagikan untuk bagian  pertama.

 

Dialog tags

Dialog tags adalah dialog yang digunakan setelah tokoh selesai biara, seperti. “katanya,” “keluhnya”. Berikut ini contohnya: “Saya menghabiskan dua piring nasi” Kata Bima. “Kata Bima” adalah tag dialog.

Kata-kata yang lazim digunakan adalah ‘katanya’, namun kita perlu berfikir untuk menggunakan kata-kata lain biar bervariasi, biar tidak terdengar membosankan karena digunakan berulang-ulang.

Tag dialog ini sangatlah penting karena dapat membantu menunjukkan siapa tokoh yang berbicara. Dalam sebuah percakapan biasanya terdapat beberapa tokoh. Tag ini akan membantu pembaca untuk menentukan sebenarnya siapa yang sedang berbicara.

Contoh:

“Saya menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan.” Kata Purbo

“Kenapa harus menyesal?” Agus balik bertanya.

“Iya, bukankah hal itu sudah kita sepakati sebelumnya” tambah Rita.

Tags begini terdengar membosankan dan tidak bervariasi. Berikut saya beri contoh yang lebih bervariasi.

“Saya menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan” Kata Purbo.

Agus menggelengkan kepalanya. “Kenapa harus menyesal?”

“Bukankah hal tersebut sudah kita sepakati terlebih dahulu?” Rita mematikan rokok, bangkit dan meninggalkan tempat. Read the rest of this entry