Author Archives: Ken dan Bening

BERKEMAH BERSAMA BENING

Buku berjudul Belajar Berkemah

Hari Rabu jadwal mengajarku sore, ibunya meninggalkan Bening kepadaku. Dari pukul tujuh hingga puluk sebelas nanti waktuku penuh bersama Bening. Jika bersama Bening, aku jarang bisa nyambi aktivitas lain. Ia selalu protes jika melihat Bapaknya membaca atau menghidupkan komputer. Dia maunya ditemani tidak mau dibagi.

Kami biasanya bermain peran, bermain bola, mobil-mobilan, mendongeng, atau menyanyi. Kadang kami jalan-jalan di sekitaran kampung. Ia senang sekali lapang. Jika mendapati tanah lapang ia akan berlari kesana kemari. Mungkin karena rumahnya sempit. Aku dan dia juga senang melihat hewan-hewan ternak peliharaan warga, entah itu kambing, bebek, kuda, kerbau, dan angsa. Read the rest of this entry

Iklan

KAMPUS DAN DANGDUT

Sebut saja namanya Tunu. Tahun 2000-an ia membeli kaset pita  Laksmana Raja di laut yang dilantunkan Iyet Bustami. Ia seperti anak culun di kelas. Ia ditertawakan. Selera musik yang aneh menurut teman-temannya. Teman-temannya mengidolakan Padi dengan lagu hitnya Semua Tak Sama atau Dewa dengan lagu hitnya Arjuna Mencari Cinta. Tapi sekarang, saat ia menjadi dosen, ia mendengar para mahasiswanya akrab dengan lagu berjudul Sayang, Bojoku Galak, Ditinggal Rabi, Suket Teki yang dipopulerkan oleh penyanyi-penyayi panggung semacam Via Valen, Nella Kharisma.

Kampus adalah tempat berkumpulnya kawula muda. Mereka punya selera musik, pakian, bahkan logat bicara yang mencerminkan anak muda. Mereka adalah representasi zaman kekinian. Sedangkan dangdut adalah musik rakyat, diundang di acara-acara hajatan perkawinan, dijogetkan dengan saweran di panggung sedekah bumi. Mungkinkah kedua hal yang (seolah) bertolak belakang ini saling menyapa? Read the rest of this entry