Category Archives: Kritik Sastra

Tersesat bersama Bayu Pratama

tersesatMinggu 29 Mei 2016, Solopos mengeluarkan cerpen berjudul Lelaki yang Sering Tersesat karya Bayu Pratama. Dengan segala kewaguannya cerpen ini tetap menyampaikan sesuatu. Saya hendak mengulas kewaguan itu dan sesuatu yang menarik yang hendak ia sampaikan.

Saya menemui kewaguan Bayu dalam membangun kalimat. Di paragraf pertama saya sudah diganggu dengan kalimat yang terasa janggal di dengar, “Saya hanya tidak sengaja tersesat. Yang mana membuat saya sering terlambat.” Kalimat ini seperti kalimat para pejabat saat menyampaikan pidato peresmian gedung di zaman orde baru.

Ada lagi lakimat sejenis ini, kalimat itu berada di paragraf ke lima. “Dulu pernah ada saya tarik kesimpulan….” Kalimat ini terdengar janggal. Gak enak didengarkan. Kalimat-kaliamat ‘jadul’ semacam ini masih saya jumpai di paragraf-paragraf berikutnya. Read the rest of this entry

SETALAH KEMATIAN KECIL

(Pengalaman membaca buku sehimpunan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo karya Triyanto Triwikromo)

Kematian betapapun kecilnya tetap saja membuat bulu kuduk berdiri, rasa iba, kengerian. Entah itu kematian musuh, penjahat, bahkan kamatian tikus yang dilempar ke jalan dan tergilas roda-roda.  Apalagi kematian seorang sahabat. Kartosoerjo adalah seorang sahabat negeri ini. Ia seperti dikatakan oleh Sukarno (xiii) pada mulanya memiliki mimpi yang sama tentang negeri ini.

Kematian kecil. Itu memberi kesan bahwa Kartosoerjo adalah sebuah ide, sebuah mimpi, sebuah imajinasi. Maka aku heran pada orang-orang yang merendahkan imajinasi padahal sebuah bangsa sekalipun dibangun dari sebuah imajinasi seperti dikatakan oleh Benedict Anderson; imagined communities komonitas-komonitas terbanyang.

Kematian kecil. Karena tubuh, fisik itu adalah hal kecil. Ia terbatas oleh waktu. Ia direnggut oleh masa tetapi mimpi itu abadi. Aku jadi ingat apa kata Pramoedya Ananta Toer: Bersekolahlah kau tinggi-tinggi tapi tanpa kau goreskan pena sejarah akan menggilasmu. Karena tulisan memuat ide, mimpi, imajinasi yang usianya jauh lebih panjang daripada tubuh. Tubuh ringkih dan keriput Kartosoerjo sekalipun tidak dieksekusi tetap saja akan luruh pada suatu hari. Pun orang-orang yang mengeksekusi juga sudah mati dengan alasan masing-masing. Tetapi sebagai sebuah mimpi ia timbul tenggelam dalam ingatan negeri ini. Read the rest of this entry