Category Archives: Kritik Sastra

SASTRA YANG MENGHIJAUKAN BUMI

Indonesia masuk dalam rengking ke empat penyumbang kerusakan lingkungan. Sepuluh negara peyumbang kerusakan alam adalah sebagai berikut: Brasil, Amerika Serikat, Cina, Indonesia, Jepang, Mexico, India, Rusia, Australia, dan Peru. Hal tersebut adalah hasil penelitian Prof. Dr. Corey Bradshow dari Universitas Adelaide Australia yang disampaikan oleh Naning Pranoto seorang sastrawan dan aktivis sastra hijau dalam seminar nasional bertema ‘Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Ekologi dan Multikulturalisme’ yang diselenggarakan oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNY di Gedung PLA FBS UNY pada 28 November 2014.

Untuk itu sumbangsing sastrawan Indonesia melalui karyanya untuk melindungi bumi dari kerusakan sangat dibutuhkan. Naning juga menyampaikan bahwa melalui tulisan akan menggugah pembaca untuk mencintai bumi. Bumi adalah rumah kita satu-satunya karena kalau bumi rusak tidak ada tempat lain untuk mengungsi atau bermigrasi. Sastra hijau atau green literature di kalangan akademisi menggunakan istilah ecocriticism adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh William Rueckert pada tahun 1978.

Kemudian apa kriterianya sebuah karya sastra masuk dalam kategori sastra hijau? Menurut penelitian Dana Phillips adalah; bahasa yang digunakan banyak menggunakan diksi ekologi, isi karya dilandasi cinta kepada bumi, rasa kepedihan bumi yang hancur, ungkapan kegelisahan dalam menyikapi bumi yang hancur, dan melawan ketidakadilan terhadap perilaku sewenang-wenang terhadap bumi. Read the rest of this entry

ESTETIKA SURAT DUA LELAKI ANGKUH

Ilustrasi cerpen Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang karya Benny Arnas yang dimuat oleh Jawa Pos edisi Minggu 18 Agustus 2013 menunjukkan gambar lelaki tua menutup mata, ada surat, dan rumah. Cerpen ini memang bercerita tenang hal-hal usang. Betapa tidak usang? Di zaman email begini masih membicarakan surat berprangko.

            Cerpen ini bercerita tentang seorang renta sebatang kara. Konflik antara bapak dan anak laki-lakinya. Kamu tahu sendiri pembaca, bagaimanakah watak para lelaki. Keras kepala, saling angkuh. Meskipun sebenarnya cinta. Keangkuhan seorang bapak dan anak laki-lakinya itulah yang membuat mereka berpisah sekian lama hingga satu di antara mereka mati.

Tanjung, renta dalam cerita ini adalah seorang pejuang kemerdekaan, veteran. Ia dulu pernah memiliki keluarga yang indah. Sayang sekali kebahagiannya goyah setelah istrinya meninggal saat melahirkan anaknya. Maksud baik tak selalu diterima dengan baik. Ia kamin lagi, maksudnya adalah agar ada yang bisa merawat anak laki-lakinya yang bernama Misral. Sayang sekali ia tidak cocok dengan istri keduanya sehingga hubungan pernikahannya berakhir dengan perceraiaan. Ia kawin cerai sampai kelima kali.

Misral anaknya yang enam belas tahun malu diperolok oleh teman-temannya sebagai anak kucing jantan yang gemar menelantarkan jalang. “Tabiat Bapak umpama pohon tanjung. Makin tua makin gemar menumbuhkan cabang dan menggugurkan daun mati,” begitu sindir Misral kepada bapaknya. Read the rest of this entry