Category Archives: Kritik Sastra

SETALAH KEMATIAN KECIL

(Pengalaman membaca buku sehimpunan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo karya Triyanto Triwikromo)

Kematian betapapun kecilnya tetap saja membuat bulu kuduk berdiri, rasa iba, kengerian. Entah itu kematian musuh, penjahat, bahkan kamatian tikus yang dilempar ke jalan dan tergilas roda-roda.  Apalagi kematian seorang sahabat. Kartosoerjo adalah seorang sahabat negeri ini. Ia seperti dikatakan oleh Sukarno (xiii) pada mulanya memiliki mimpi yang sama tentang negeri ini.

Kematian kecil. Itu memberi kesan bahwa Kartosoerjo adalah sebuah ide, sebuah mimpi, sebuah imajinasi. Maka aku heran pada orang-orang yang merendahkan imajinasi padahal sebuah bangsa sekalipun dibangun dari sebuah imajinasi seperti dikatakan oleh Benedict Anderson; imagined communities komonitas-komonitas terbanyang.

Kematian kecil. Karena tubuh, fisik itu adalah hal kecil. Ia terbatas oleh waktu. Ia direnggut oleh masa tetapi mimpi itu abadi. Aku jadi ingat apa kata Pramoedya Ananta Toer: Bersekolahlah kau tinggi-tinggi tapi tanpa kau goreskan pena sejarah akan menggilasmu. Karena tulisan memuat ide, mimpi, imajinasi yang usianya jauh lebih panjang daripada tubuh. Tubuh ringkih dan keriput Kartosoerjo sekalipun tidak dieksekusi tetap saja akan luruh pada suatu hari. Pun orang-orang yang mengeksekusi juga sudah mati dengan alasan masing-masing. Tetapi sebagai sebuah mimpi ia timbul tenggelam dalam ingatan negeri ini. Read the rest of this entry

PUISI NISAN BAGI PENYAIR

nyanyian akar rumput WIJI THUKUL

Nyanyian akar rumput WIJI THUKUL

Nyanyain Akar Rumput, Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul adalah buku yang tepat dibaca di hari buruh internasional di bulan Mei ini. Apa pasal? Buruh adalah profesi yang dihormati dan diperjuangkan oleh Wiji. Alasan lain, tangal 21 Mei 1998 adalah hari di mana razim yang digugat oleh Thukul yaitu Soeharto tumbang.

Buku terbitan Gramedia ini memuat 172 puisi karya Wiji Thukul dari tahun 1980-an hingga menjelang lengsernya Soeharto di tahun 1998. Membaca puisi-puisi Wiji Thukul maka kita akan melihat kegelisahannya tentang realitas sosial yang timpang dari mula ia terjun ke dunia kepenyairan. Lihat saja puisi berjudul Monumen Bambu Runcing yang ia tulis pada tahun 1986: /Monumen bambu runcing/di tengah kota/ menuding dan berteriak merdeka/di kakinya tak jemu juga/pedagang kaki lima berderet-deret/walau berulang-ulang/dihalau petugas ketertiban/. Puisi tersebut memang belum menunjukkan perlawanan namun sudah menunjukkan realitas sosial yang timpang. Selanjutnya puisi-puisi Wiji Tukul tidak hanya berbicara tentang realitas sosial tetapi berani lebih terbuka mengkritik presiden, jendral, polisi. Nama-nama yang muncul dalam puisi-puisi tersebut antara lain Si Kuncung, Pak Karto, Si Bejo, Mbok Sukiyem, Si Selamet, Bangong. Mereka adalah budak pembangunan yang diperas tenaganya tetapi dihargai murah. Read the rest of this entry