(3) Tiga Laki-Laki Cemen di Banjir Kanal Barat

nuruto bab 3“Lanang kabeh, dasar cemen lho” Seorang bocah meneriaki Sanul, Tirto, dan Alfa yang sedang menikmati malam dengan kerlap-kerlip lampu di pinggir sungai Banjir Kanal Barat. Mereka bertiga tertawa mendengar tingkah polah anak itu. Anak itu mengejek karena mereka bertiga berdampingan dan laki-laki semua. Sementara di sudut-sudut yang lain duduk berpasang-pasangan laki-laki-perempuan. Usianya sih macem-macem, ada yang masih usia SMP, dan yang mahasiswa, ada yang Om dan tante, dan ada kakek-nenek.

            Tentu saja anak kecil itu tidak tahu kalau sebenarnya Sanul sudah punya pacar meskipun sekarang pulang kampung untuk merayakan lebaran. Anak itu juga
tidak tahu kalau Tirto juga pernah punya pacar. Sekarang Hajir belum berkeinginan menjalin hubungan lagi dengan perempuan. Kenangan bersama pacarnya yang berinisial E sangatlah kuat. Dan Tirto belum dapat menemukan perempuan lain yang lebih baik, yang lebih cantik, yang lebih manis dan ayu, manja, kenes, dibanding pacarnya itu. Memang sih kakak perempuannya yang bawel sudah menjodoh-jodohkannya dengan salah satu temannya. Tapi Tirto belum bisa memutuskan. “Nunggu apa sih Jir, kamukan sudah kerja, sudah mapan, sudah dapat gaji.” Kata Mbaknya. “Nanti Mbak kalau aku sudah diterima S2” Jawab Tirto. Tirto adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta dengan gaji tak seberapa. Tapi profesi guru hanyalah untuk status belaka. Usahanya yang bergerak dibidang propertilah yang membuat dirinya tampak mentereng dengan BUGATTI VEYRON SUPER SPORTS Sebagai tunggangannya. Tirto adalah pria yang dari masih dibangku kuliah selalu konsen prihal isu-isu perempuan dan anak.

            Bocah itu juga tidak perlu tahu bukan, kalau Alfa sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan perempuan. Yang terakhir seingat Sanul pacar Alfa berinisial L. L apa K ya? Sanul lupa. Meskipun memang sekarang sedang jomlo. Ia yang kini berprofesi sebagai wartawan di majalah pria dewasa tidak jarang harus wawancara dengan perempuan-perempuan cantik dengan sebagian besar anggota badannya diikhlaskan untuk dipandangi orang. Termasuk pada Alfa inilah kadang-kadang perempuan-perempuan cantik itu, model majalah pria dewasa itu mengikhlaskan tubuhnya untuk sekedar dipandang. Sekedar dipandang lho ya, tidak yang lain?

            Sanul mengeluarkan asap dari mulutnya berlahan-lahan sekali. Kemudian memandangi asap-asap itu yang bergerak menjauh menjuju langit. Ia seperti tidak ikhlas melepas asap itu sama tidak ikhlasnya melepas pacar untuk pulang kampung merayakan lebaran. “Semoga asap ini sampai kepada Tuhan dan mengabulkan do’a-do’a kita.” Kata Sanul.

            “Apa sih do’amu yang paling ingin segera kau wujudkan?” tanya Tirto

            “Tulisan cerpenku dimuat di Kompas” Jawab Sanul

            “Lho kamu tidak ingin segera lulus, kamukan sudah jatahnya lulus?”

“Ho ho kata Sujiwo Tejo lulus itu penting bagi orang yang IQ melati”

“Nul” kata Alfa, “Kenapa kamu mengangkat kondektur sebagai sumber wawancara dalam rangka hari transportasi? Kenapa kamu tidak mengangkat menteri perhubungan sebagai narasumber?”

“Oh begini Mas Alfa, Narasumberku Si Joni itu bukan kondiktur sembarangan. Meskipun kondektur dia rajin baca buku, pengetahuannya luas. Dia juga mampu menyerap pengetahuan dari penumpangnya. Mas Alfa pasti belum melihat aksinya saat menghibur penumpang dengan membaca puisi. Anehkan kondektur baca puisi? Salah seseorang dengan entah iseng entah disengaja telah merekamnya dan mengunggahnya di youtube. Saya mengenalnya melalui youtube ini.” Sanul membela diri.

“Ah itu alasan kamu saja Nul. Pembaca majalahmu itu para intektual terpelajar bukan sopir angkot, pedangang asongan. Kamu pasti minder ya mau menjadikan menteri perhubungan sebagai narasumber, makanya cari kondektur sebagai gantinya?” Desak Alfa.

Tirto dan Alfa memang dari dulu tidak pernah akur. Segala pendapat Tirto di bantah Alfa dan juga sebaliknya. Sanul sempat curiga akan adanya perang dingin di antara mereka berdua. Tirto juga sering memprotes tulisan yang ditulis oleh Alfa yang menurut Tirto merendahkan martabat perempuan.

Maka sudah dapat ditebak, saat Tirto menyerangnya secara otomatis dan tidak usah diminta maka Alfa akan membelanya. “Oh bagus itu Nul, aku suka tulisanmu yang mengangkat kondektur itu sebagai narasumber. Itu artinya kamu adalah wartawan yang anti-mainstream.” Bela Tirto.

Kadangkala para senior itu nasehatnya dibutuhkan Sanul, tapi seringkali terlalu banyak mengatur jadi membuat pusing. Senior yang ini meminta begini yang satunya meminta yang lain. Menuruti yang ini kemudian disalahkan yang lain. Kelanjutan Cerbung ini akan bercerita Sanul yang curhat sama pacarnya tentang kelakukan para senior yang bawel itu. TUNGGU SAJA.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 2, 2013, in Cerbung NURUTO-NURUTO and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: